SANTET (kisah nyata menurut yang cerita) PART II
Ok tidak ada kentang di antara kita , mari selsaikan yang hampir kelar ..
chek this out !!!!!!
chek this out !!!!!!
“jadi seperti ini kejadiannya pak.”Kang Asep mulai
bercerita, semua orang yang ada diruangan itu, saya, ibu dan kedua adik saya
mendengarkan dengan seksama.
Menurut kang Asep dua hari kemarin Teh Ratih mulai pulih,
entah karena mulai terbiasa atau tidak peduli lagi, sedikit demi sedikit terror
yang dihadapi mulai bisa ia atasi. Kini ia tak peduli lagi dengan bayangan
hitam yang selalu terlihat diluar rumahnya menjelang malam tiba. Suara wanita
yang terus terngiang ditelinganya sudah anggap ia biasa. Bahkan terror itu
sudah jarang. Mungkin karena kondisi rumah kang Asep yang selalu ramai, menurut
kang Asep ia meminta tetangganya untuk menginap dirumahnya secara bergantian.
Sedangkan ibu mertuanya sejak teh Ratih mengalami terror ia memutuskan untuk
tinggal disana, walaupun adik iparnya harus bolak-balik mengecek rumah sekedar
untuk bersih-bersih atau mengambil baju ganti.
Menurut kang Asep malam itu dirumahnya cukup ramai, ada dua
orang perempuan tetangganya yang menginap. Sedangkan kang Asep berjaga dibangku
depan rumah ditemani adik iparnya, ketika sedang menikmati segelas kopi dan
roko kreteknya, tiba-tiba gerimis turun. Memaksa kang Asep untuk masuk kedalam
rumah. Sekitar tengah malam dan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat,
semua orang sudah terlelap. Kecuali teh Ratih waktu itu yang terbangun karena
ingin buang air kecil.
Teh ratih tidur diruang tengah ditemani ibu dan dua orang
tetangganya yang menginap disana. Sedangkan kang Asep tidur disofa ruang tamu.
Teh ratih mencoba mengguncang-guncangkan pelan tubuh ibunya untuk minta
ditemani ke kamar mandi.
Kang asep ini memiliki kamar mandi yang terpisah dari
rumahnya, dan memiliki sebuah sumur sebagai sumber air bersih. Maklum didesa
kang asep yang letaknya cukup jauh dari kecamatan atau hampir bisa dibilang
sangat pelosok, warganya tidak memiliki akses air bersih yang langsung
kerumah-rumah. Ada sebenarnya MCK yang didirikan sebagai pusat air bersih warga,
namun sebagian orang lebih memilih cara tradisional untuk mendapatkan air
bersih agar tidak bolak-balik mengangkutnya dari MCK, yaitu dengan cara
menggali sumur.
Hujan turun sangat deras disertai angin kencang, malas
sebenarnya teh ratih harus pergi kebelakang namun kali ini sudah tidak bisa
dikompromi lagi. Karena ibunya tak kunjung bangun, ia memutuskan untuk pergi
sendiri. Namun tiba-tiba lampu dirumahnya mati, keadaan menjadi gelap gulita.
Ia mengambil korek api untuk menyalakan lilin, yang sudah dipersiapkan
sebelumnya. karena warga dikampung, termasuk dikampung saya selalu siaga bila
hujan tiba untuk menyiapkan lilin apalagi kalau hujannya dibarengi petir yang
tak henti-henti.
Teh ratih keluar lewat pintu belakang hanya ditemani cahaya
lilin dan payung, tidak kepikiran waktu itu menurut teh ratih akan diganggu
hal-hal aneh lagi. Namun ketika membuka pintu kamar mandi samar-samar dalam
suara derasnya hujan yang mengguyur atap rumahnya terdengar suara wanita
menangis. Teh ratih berhenti sejenak, untuk memastikan bahwa suara itu memang
suara orang bukan suara angin ataupun air hujan.
Suara tangisan wanita itu semakin kencang, terdengar begitu
lirih seperti orang kesakitan. Dalam hati teh ratih mengutuk, dasar setan
sialan tak henti-hentinya menggangguku. Teh ratih mencoba menghiraukan dan
langsung masuk ke kamar mandi. tapi lama-kelamaan suara perempuan itu sedikit
mengganggu, karena teh ratih sudah geram dengan mengenyampingkan rasa takut dia
memberanikan diri untuk mencari arah suara tangisan itu berasal.
Suara tangisan itu berasal dari arah samping. Teh ratih yang
baru selesai keluar dari kamar mandi langsung membuka pintu. Sebatas mata
memandang hanya kegelapan dan air hujan yang terlihat, teh ratih menengok
kekiri dan kekanan tapi tak ada seorangpun terlihat.
“heh sundal, keluar kau !!” tantang teh ratih teriak
ditengah malam.
Suara tangisan itu kini semakin jelas, terdengar dari arah
sumur milik teh ratih. Teh ratih yang merasa ditantang, dia keluar tak peduli
lagi dengan derasnya air yang membasahi tubuhnya.
Teh ratih mendongkak untuk melihat kedasar sumur, dengan
susah payah ia mencoba memecingkan mata yang terhalang cucuran air dari
rambutnya. Lilinnya sudah tentu padam. Begitu kepala teh ratih mulai mendongkak
kebawah suara itu terdengar lebih jelas.
“dasar sundal.” Ucap teh ratih yang kemudian mengambil batu
dari samping rumahnya yang ukurannya sebesar helm yang ia angkat dengan susah
payah.
byurrr terdengar bunyi yang menggema didalam sumur yang
diikuti dengan jeritan suara perempuan. Untuk sejenak suara perempuan itu
hilang, teh ratih yang merasa sudah puas mendongkak lagi untuk mengecek didalam
sumur. Terlihat sesosok tubuh dengan rambut basah tergerai panjang
menggelantung ditali timba sumur. Dalam sekejap keberanian teh ratih luntur dan
membuatnya tersentak kaget bukan main.
Tubuh teh ratih lemas tidak berdaya, dia masih terduduk
ditanah menyaksikan tali timba yang terus bergerak seperti ada seseorang yang
sedang menariknya dari bawah. Teh ratih mencoba berteriak memanggil suaminya,
namun suara hujan yang deras telah meredam suaranya. Teh ratih tak sadarkan
diri saat melihat sesosok wanita yang hendak menyeret kakinya agar ikut masuk
kedalam sumur.
Teh ratih ditemukan dipinggiran bibir sumur dan hampir saja
nyemplung kebawah sekitar jam 4 subuh oleh ibunya yang menyadari karena anaknya
tidak ada dikasur. Peristiwa itu menggemparkan warga kampung, karena mungkin
dua tetangga kang Asep yang malam itu menginap membeberkannya ke warga yang
lain. Bahkan menurut kang Asep beberapa warga sampai datang menjenguk juga,
karena isu yang berkembang di masyarakat katanya teh ratih mau bunuh diri
dengan cara terjun kedalam ke sumur.
Ketika kang Asep menimba air sumur untuk mengisi bak
mandinya secara tak sengaja dalam ember air yang ia tarik terdapat bungkusan
pocong kecil seperti dulu yang ditemukan kang Asep dibawah batu. Rupanya si
pengganggu belum kapok-kapok.
“ini pak ditemukan lagi.” Ucap kang Asep setelah selesai
menceritakan peristiwa istrinya sambil menyodorkan pocongan kecil.
Karena bapak tak tega mendengar cerita kang Asep dengan
terpaksa dia mau turun tangan lagi, karena menurut bapak ini sudah keterlaluan.
Kalau niatnya Cuma ngasih pelajaran mungkin masih bisa ditolerin tapi ini sudah
niat mencelakakan.
Keesokan harinya, sekitar jam 3 sore keluarga saya datang ke
rumah kang Asep, saya memakai motor pinjaman dari adik bapa untuk membonceng
kedua adik saya. Teh ratih terlihat memprihatinkan ketika kami datang kesana,
tubuhnya tampak kurus tinggal tulang yang terbalut kulit. Kehidupannya tak
tenang, terror yang terus dialaminya membuat hidupnya berantakan.
Sebelum kami pulang bapak berpesan pada kang Asep, agar
jangan membiarkan teh ratih keluar rumah sendirian, si pelaku santet tak berani
masuk rumah karena sudah dihalangi pagar ghoib maka dia berusaha mengajak si
korban keluar rumah untuk diperdaya.
Keesokan harinya setelah pulang dari rumah kang Asep, saya
diajak bapak untuk menemui seorang pria. yang ternyata adalah seorang
paranormal cukup terkenal dikampung saya. Jadi dikampung saya itu ada seorang
pria tua yang cukup tersohor, banyak orang-orang besar dari kota yang datang
kerumahnya.
Tidak bisa dipungkiri, percaya atau tidak memang masih
banyak orang-orang yang datang ke orang pintar atau paranormal untuk meminta
restu agar semua urusannya lancar. Masalah bisnis, pencalonan diri jadi
aparatur negara sampai masalah kecil seperti ingin lolos tes cpns banyak dari
kita menggunakan jasa mereka atau bahkan datang ke tempat-tempat keramat. Saya
tak mengerti apakah ini termasuk menyekutukan tuhan atau tidak tapi begitulah
adanya, tapi jangan berpikir bahwa datang ke tempat keramat hanya sebatas yang
terlihat di televisi saja bahwa ritualnya menakutkan dan menyeramkan, semuanya
terlihat biasa bahkan normal-normal saja.
Saya tidak begitu kenal dengan pria tua ini, karena jarang
bergaul dengan warga mungkin karena terlalu sibuk dengan tamu-tamu kotanya itu.
Yang pasti seluruh kampung sudah tahu pria tua ini dengan nama yang akan saya
samarkan. Aki merah begitu mungkin saya akan menyebutnya karena saat pertama
kali melihatnya dia mengenakan baju merah.
Ketika kami datang ki merah sedang asyik memandikan burung
perkututnya, kebetulan hari itu tidak ada tamu yang datang kerumahnya. Ketika
basa-basi selesai dan kami dipersilahkan masuk, mimik muka bapak yang tadinya
ramah kini berubah menjadi serius.
“sudahlah ki, akhiri semuanya.” Ucap bapa pada ki merah.
Entah benar-benar tidak mengerti atau hanya pura-pura ki
merah tampak kebingungan dengan ucapan bapak. Dia menatap bapak lekat-lekat
dengan penuh rasa curiga.
“kasihan, dia masih muda. Apa pengalaman yang dulu tidak
membuat aki belajar.” Seakan tidak peduli dengan mimik muka ki merah, bapak
terus melanjutkan ucapannya.
“apa maksudmu ?” ki merah akhirnya merespon.
“entah ada yang menyuruh aki, atau aki sendiri yang punya
urusan dengan orang ini. Tolong jangan ganggu dia lagi, saya benar-benar
memohon kali ini. Istrinya tampak menderita karena ulah aki.” Bapak masih tetap
melanjutkan ucapannya dan tidak menggubris pertanyaan ki merah.
Usai menyampaikan permohonannya bapak mengajak saya untuk
pergi meninggalkan ki merah dengan wajah penuh tanda tanya. Sempat terbesit
juga dalam benak saya, apa yang sebenarnya sedang dilakukan bapak. Jika pun
bapak sudah mengetahui orang yang telah mengganggu keluarga kang Asep, apakah
ki merah orangnya apakah bapak tidak salah melemparkan tuduhan tersebut ?
Ingin rasanya saya bertanya tentang ulahnya tadi siang
dirumah ki merah, tapi melihat mimik muka bapak yang tidak seperti biasanya
membungkam keberanian saya untuk bertanya. Mungkin kita biarkan saja waktu yang
akan menjawabnya, saya hanya penonton biasa yang hanya ikut menyimak.
Sore hari sepulang dari rumah ki merah, rumah saya
kedatangan tiga tamu. Satu pria dengan kumis lebat mengenakan peci hitam, dan
dua pria lagi mengenakan kaos oblong biasa yang dibalut dengan jaket kulit
berwarna coklat. Saya tidak mengenal ketiga pria tersebut, yang pasti bukan
warga dari kampung saya.
Begitu dipersilahkan masuk, mereka segera duduk. si pria
berpeci hitam yang ternyata setelah memperkenalkan diri adalah seorang lurah
dari kampung kang Asep.
“ada apa ya pak ?” ucap bapak.
Pak lurah mulai menceritakan kejadian dikampungnya, bahwa
kang asep hampir saja membunuh salah satu warganya, untung hal tersebut masih
bisa dicegah sehingga tidak ada korban. Kejadian itu berlangsung saat warga
terlelap tidur sekitar jam 10 malam, warga yang terbangun karena mendengar
suara teriakan minta tolong dari seorang pria.
Lantas setelah kang Asep dan warga yang jadi sasaran kemarahan
kang Asep ini dibawa ke balai desa, maka masalah mulai terungkap disana. Kang
Asep merasa curiga bahwa pria yang ternyata seorang pegawai perkebunan teh ini
menjadi ulah dari guna-guna istrinya. Tadinya pak lurah berniat akan membawa
masalah ini ke polisi, tapi takutnya terjadi salah paham maka pria berpeci
hitam tersebut bilang kepada bapak bahwa sebelum masalah ini dibawa keranah
hukum, ia ingin menyelesaikannya dulu secara kekeluargaan.
“dan saya mendengar bahwa Asep berobat atau konsultasi
dengan bapak, apakah bapak yang memberi tahu pelaku guna-guna istrinya itu ?”
ucap pak lurah.
Bapak merasa kaget mendengar kabar tersebut, tentu saja dia
belum pernah berbicara apapun masalah pelaku ataupun orang yang ada dibelakang
santet istrinya. Kenapa kang Asep gegabah bertindak tanpa memberitahu dahulu,
kalau begini caranya kang Asep malah menyeret bapak masuk kedalam masalah.
Hendak menolong anjing yang terjepit tapi balasan terima kasihnya malah
menggigit.
Agar semua beres dan jelas, maka bapak bersedia datang ke
kampung kang Asep untuk musyawarah di balai desa menyelesaikan masalahnya. Saya
ikut membonceng bapak, sekaligus ingin menjawab rasa penasaran saya apa yang
akan terjadi selanjutnya.
Begitu kami sampai, keadaan didalam ruangan balai desa sudah
ramai oleh warga, didepan terlihat kang asep yang sedang duduk dikursi kayu
disebelah kanan, sedangkan diarah berlawanan tampak seorang pria yang juga
duduk dengan wajah gelisah penuh ketakutan. Baru belakangan saya tahu bahwa
pria yang hampir saja jadi sasaran amukan kang Asep ini bernama kang Mardi.
Pak lurah mulai membuka musyawarah. Saya duduk bersama warga
lainnya, sedangkan bapa berada didepan bersama pak lurah. Suasana dibalai desa
ini mirip sekali diruang persidangan, kang Asep sebagai terdakwa, kang Mardi
sebagai korban sedangkan pak lurah tampak seperti hakim pengadilan.
“kenapa kamu ingin membunuh mardi ?” tanya pak lurah.
“karena dia sudah mengguna-guna istri saya, kampret kau
mardi !!” teriak kang asep dengan penuh amarah.
“saya tidak melakukan apapun pada istrinya pa lurah, siapa
yang bilang bahwa aku pelakunya. Apakah Dia.. dia si dukun sialan itu yang
memberitahumu, sehingga timbul fitnah ini.” Kang mardi tak kalah geram sambil
menunjuk-nunjuk muka bapak yang masih santai duduk disamping pak lurah.
Jujur saya sedikit tersinggung ketika bapak dikatakan dukun
sialan oleh kang mardi. Pertama bapak saya bukan dukun dan tidak membuka
praktek, kedua manusia sialan tidak akan mau membantu orang lain apalagi
pertolongannya itu bisa membahayakan keluarganya. Mungkin bapak saya bukan
malaikat yang seratur persen orang baik dan sempurna, tapi tetap saja saya
merasa marah ketika mendengar ucapan kang mardi.
Semua mata tertuju pada pada bapak termasuk pak lurah, tanpa
perlu ditanya lagi bapa kemudian membuka mulut.
“sep apa saya pernah mengucapkan satu nama terkait pelaku
yang mengguna-guna istrimu ?”
Kang asep hanya diam tak memberikan jawaban apapun, wajahnya
tertunduk mungkin karena malu. Pa lurah mengulang pertanyaan bapak kepada kang
Asep untuk mendapatkan jawaban pasti.
“memang tidak pak, tapi si mardi ini kan dulu sempat
berhubungan dengan ratih sebelum akhinya saya menikahinya. Lagian tadi malam
dia terlihat lewat dirumah saya malam-malam. sudah barang tentu dia pelakunya
pak lurah.” Ucap kang asep masih dengan nada geram.
“saya semalam hanya lewat pak lurah, tidak ada maksud
apa-apa. Lagian istrimu itu emang bidadari ? masih banyak wanita cantik diluar
sana yang bisa saya dapatkan.” Ucap kang mardi yang tak kalah emosi.
Ketika kang mardi mau berkata lagi, kang asep beranjak dari
duduknya dan meloncat sambil melayangkan satu pukulan tepat di pipi sebalah
kiri kang mardi. Suasana dibalai desa kembali riuh, ada warga yang sibuk
menarik kang asep agar tidak berkelahi, namun sebagian lagi bersorak ketawa-ketiwi
menyaksikan adegan yang jarang terjadi ini.
Kang mardi yang merasa dirinya dilecehkan karena dipukul
dimuka umum merasa marah dan balik ingin menyerang, tentu saja hal ini membuat
warga kerepotan memisah dua pria yang sedang dikuasai amarah ini.
Hampir lima belas menit kegaduhan berlangsung, hingga
keadaan kondusif kembali. kedua pria yang berkelahi ini kembali duduk tenang
dengan kawalan beberapa warga disampingnya, sekedar jaga-jaga agar kerusuhan
tidak terulang kembali.
“saya tidak sedikitpun mengganggu istrinya, pak lurah.
Memang apa buktinya kalau saya yang melakukan guna-guna itu hah ? lagian saya
baru tahu kalau istrinya diguna-guna, pak lurah. Bukankah dari kabar yang saya
dengar istrinya mau bunuh diri disumur belakang rumahnya. Lalu sekarang dia
marah-marah menuduhku yang tidak-tidak. Apakah ini cara kau saja untuk mencari
kambing hitam atas ketidak becusanmu mengurus istri ?” bentak kang mardi yang
mungkin merasa emosi karena pukulan kang asep belum ia balas.
Kang asep hendak kembali loncat dan melayangkan pukulan,
namun kali ini ada dua orang warga yang menahannya. Begitu juga kang mardi yang
kedua tangannya dipegang warga lainnya seperti seorang tahanan.
Pak lurah tampak kebingungan, apa yang harus dia lakukan
untuk menyelesaikan pertikaian kedua warganya ini. Setelah berpikir cukup lama,
dan membiarkan kang mardi dan kang Asep beradu mulut, akhirnya pak lurah
menggebrak meja. Keadaan menjadi hening semua mata tertuju kepada pak lurah.
“begini saja, agar semuanya beres. Kita tak punya bukti bahwa
mardi yang menyantet istirnya asep. tapi untuk menghilangkan rasa penasaran
asep yang menuduh bahwa mardi pelakunya, mari kita tanya saja ke ahlinya. Orang
yang lebih ngerti tentang hal-hal seperti ini.” ucap pak lurah, yang kemudian
memalingkan pandangannya kepada bapak saya.
“menurut bapak yang lebih ngerti tentang hal-hal seperti
ini. Sebenarnya siapa orang yang telah tega mengguna-guna istrinya si asep ini,
apakah mardi orangnya atau ada orang lain ?”
Mendengar pertanyaan pak lurah, mimik muka bapak tampak
kebingungan, apa yang harus dia katakan sekarang, Ditambah semua mata warga
tertuju padanya. Keadaan hening, semua warga terlihat serius siap-siap
mendengarkan ucapan yang akan keluar dari mulut bapak saya, hingga akhirnya
bapak menarik nafas dalam-dalam sebelum ia mulai berbicara.
“jika saya memberitahukan siapa pelakunya apa yang akan
kalian lakukan ?” tanya bapak saya kepada warga yang berkumpul disana.
“tentu saja kita akan menangkapnya, masalah pengadilan kita
tentukan nanti, apa mau kita adili sendiri atau dibawa ke kantor polisi ?”
celetuk salah satu warga.
“memang kalian bisa menjamin bahwa ucapan saya benar ? jawab
bapak.
“tentu saja bapak kan seorang dukun.” Jawab warga lainnya
yang sepertinya tampak semangat.
“baik. Pertama saya sangat tidak nyaman dibilang seorang
dukun, karena saya tak membuka praktek. Saya hanya berniat membantu asep,
karena kasihan melihat istrinya. Kedua, apa bapak-bapak disini punya bukti
penguat bahwa ucapan saya benar ?”
Setiap warga saling berpandangan, wajah mereka nampak
kebingungan termasuk juga pak lurah. Tentu saja ucapan bapak benar, jika bapak
saya menyebutkan nama baru, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah, tapi
hanya mengalihkan kebencian pada orang baru lainnya.
“jadi apa yang harus kita lakukan sekarang pak lurah ?” ucap
warga yang tampak tidak sabar.
Pak lurah masih diam dan belum mengambil keputusan,
sementara warga saling berbisik berbicara dibelakang saling bertukar pendapat
apa yang seharusnya mereka lakukan. Musyawarah ini berjalan begitu alot, hingga
tak terasa adzan magrib terdengar.
Begitu adzan selesai berkumandang, tiba-tiba pak lurah
bangun dari duduknya. Bisikan-bisikan dibelakang seketika berhenti, semua mata
tertuju kepada pak lurah.
“begini saja, agar cepat beres dan tidak ada lagi
kecurigaan. Bagaimana kalau si mardi di sumpah pocong.” Pernyataan pak lurah
membuat kaget semua orang.
“bila kamu benar-benar tak bersalah seharusnya tidak
keberatan mardi ?” ucap pak lurah menantap kang Mardi, yang kemudian disusul
gemuruh suara warga mengiyakan pendapat pak lurah tersebut.
“tentu saja saya tidak keberatan.” Jawab kang mardi dengan
sedikit ragu, mungkin dia merasa merinding mendengar nama sumpah yang jarang
dilakukan ini.
Akhirnya keputusan pak lurah bisa sedikit meredam rasa kesal
warga, termasuk kang Asep mungkin. Setelah itu pak lurah mengumumkan bahwa
sumpah akan dilakukan setelah adzan isya di mesjid, kemudian ia memerintahkan
beberapa warga untuk menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk kelangsungan
sumpah pocong nanti, seperti kain kapan. Sebenarnya bapak mau berpendapat tapi
melihat antusias warga yang begitu semangat, maka bapak memutuskan untuk setuju
saja, setidaknya kecurigaan ini tidak berakhir dengan kekerasan.
Saya tidak terlalu paham dengan konsep sumpah pocong, tapi
pendapat beberapa orang sumpah ini ada karena percampuran agama dan tradisi
budaya ketimuran, khusunya dipulau jawa. Jadi menurut kepercayaan warga
setempat, sumpah pocong dilakukan oleh seseorang yang dicurigai berkata bohong,
konon bila si pembohong melakukan sumpah pocong maka kesialan atau bahkan
bencana bisa menyelimutinya seumur hidup. sumpah ini dianggap bisa
menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan dipengadilan. Tapi di era
moderenisasi seperti sekarang, rasanya jarang orang yang melakukan cara-cara
seperti ini.
Sekitar setengah delapan malam, banyak warga berkumpul
dihalaman depan masjid. Mereka penasaran dengan kejadian langka seperti ini,
entah bagaimana caranya kabar tentang sumpah pocong ini cepat sekali merebak
dikalangan warga.
Kang mardi yang baru selesai dimandikan, kini tubuhnya
sedang dibungkus dengan kain kapan, melihat pemandangan seperti itu tentu saja
membuat bulu kuduk saya merinding. Setelah tubuh nya selesai diikat dengant
tali pocong, tubuh kang mardi dibopong ketengah masjid.
Sumpah siap diucapkan, semua warga menyaksikan dengan
tegang. Namun tiba-tiba terdengar teriakan anak kecil dari arah luar.
“kang Asep..Kang Asep….kang Asep.”
semua orang perhatiannya teralihkan kearah pintu pagar
masjid. Melihat seorang anak kecil sedang ngos-ngosan memanggil-manggil nama
kang Asep. kang mardi yang sedang telentangpun ikut-ikutan bangun hingga
membuat orang yang berada didepannya meloncat kaget.
Kang Asep yang merasa dirinya dipanggil langsung menghampiri
anak kecil yang ternyata anak tetangganya tersebut sembari bertanya ada apa
sebenarnya.
“Teh ratih lari, keluar rumah, ga tahu kenapa, seperti orang
kesurupan..” ucap anak kecil dengan nada terbata-bata berusaha mengatur
nafasnya.
Tanpa pikir panjang kang Asep segera berlari menuju
rumahnya, seketika juga beberapa orang yang berada dimesjid termasuk pak lurah
segera menyusul kang Asep meninggalkan kang mardi yang masih duduk kebingungan
dalam kondisi tubuh terikat dalam kain kapan. Saya dan bapak juga ikut pergi,
sedangkan orang-orang yang berkumpul disana ada yang pulang karena ketakutan,
sebagian lagi ada yang pergi menyusul karena rasa penasaran.
Ketika kami sampai dirumah kang Asep, terlihat ibu mertuanya
sedang menangis. Menurut mertua kang Asep, ketika teh ratih sedang duduk
menonton tv, tiba-tiba ada suara anjing yang menggong-gong keras dan tak
henti-henti diluar rumah. Karena ibunya takut dengan anjing, maka teh ratih
yang berinisiatif pergi kehalaman untuk mengusirnya, namun selang beberapa
menit teh ratih tak juga kembali masuk kedalam rumah.
“lalu ibu pergi keluar untuk menyusulnya, tapi ratih tidak
ada. Dan menurut tetangga tadi ratih terlihat berlari sambil memegang batu
mengejar anjing hitam kearah barat.” Ucap mertua kang Asep yang kemudian
menangis kembali.
Kang Asep yang hendak pergi karena emosi ditahan beberapa
warga, kata pak lurah sebaiknya kita melakukan pencarian bersama-sama. Sekitar
dua puluh orang yang dipimpin pak lurah siap untuk melakukan pencarian.
Sementara bapak mengajak saya pulang setelah berpamitan dengan kang Asep, kata
bapak dia akan membantunya dengan cara lain.
“antar bapak kerumah aki merah”. Ucap bapak kepada saya.
Tanpa banyak bertanya saya menarik gas, meluncur menuju
rumah ki merah. Sekarang saya merasa yakin mungkin ki merah lah pelakunya, dia
telah memanfaatkan kesempatan ketika teh ratih ditinggalkan oleh suaminya untuk
melancarkan serangannya lagi.
“memang ki merah itu siapa pak ?” diperjalanan untuk
menghilangkan perasaan tegang saya bertanya.
“kamu masih ingat dengan cerita bapak tentang teh Maryah ?”
bapak malah balik bertanya.
Menurut bapak ki merah sejak muda memang gemar mengulik
ilmu-ilmu kebatinan, waktu itu bapak masih remaja. Masih ingat ketika kang
Solihin hampir saja membunuh seorang pria yang diduga menyantet istrinya,
menurut bapak orang tersebut adalah ki merah. Memang waktu itu tidak ada bukti
yang kuat, tapi berdasarkan desas-desus yang beredar dikalangan warga meyakini
bahwa ki merah memang pelakunya.
“bagaimana bapak yakin waktu itu kalau ki merah orangnya ?”
saya masih penasaran.
Bapak saya bercerita bahwa kakek sayalah yang
memberitahunya, waktu itu kakek saya baru pulang dari sawah malam-malam habis
mengairi sawah. Ketika lewat belakang rumah kang solihin samar-samar dalam
redupnya lampu bohlam dia melihat sesosok pria sedang menggali tanah. Karena
merasa curiga kakek saya bersembunyi dibalik semak-semak mengawasi. Mungkin
sekitar lima menit berlalu dan lubang itu telah selesai, pria tersebut
mengeluarkan bungkusan kain putih dari sakunya, yang kemudian ia masukan
kedalam lubang galian yang baru dibuatnya.
Saat melihat sesosok pria tersebut berbalik badan, dia yakin
wajah itu adalah wajah ki merah. Dan keesokan harinya tragedi mengerikan teh
maryah terjadi. Kakek saya merasa berdosa juga karena tidak bisa berbuat
apa-apa, mengingat bila dia jadi saksipun tanpa bukti yang kuat pengadilan akan
tetap tidak percaya.
“kenapa ki merah melakukan itu pada teh maryah pak ?” tanya
saya masih penasaran.
Menurut bapak, tak ada yang tahu apa motif dibalik
penyantetan teh maryah waktu itu, ada yang bilang dia cemburu karena ki merah
menaruh hati sama teh maryah. Ada yang bilang keluarga kang solihin berselisih
dengan keluarga ki merah tentang batas kebun mereka. Tapi ada yang bilang juga
itu hanya kegilaan ki merah waktu muda yang ingin mencoba ilmu kebatinan yang
baru dipelajarinya. Tak ada yang pasti, kabar itu simpang siur. Hanya ki merah
sendiri yang tahu alasannya.
Mengerikan kalau yang terakhir menjadi alasan ki merah
menyantet orang, gila bener, sikopat akut. Sunngguh merinding saya mendengar
ada jenis orang seperti itu dimuka bumi ini.
“terus kenapa sekarang bapak bisa yakin kalau yang
mengguna-guna teh ratih adalah ki merah ?”
Kakek saya pernah bilang kepada bapak, bahwa ilmu seperti
ini sangat sulit untuk dikuasai. Hanya satu orang yang ia kenal yang bisa melakukan
santet jenis ini, dan satu lagi menurut bapak saya, instuisi dan hasil dari
penerawangannya selalu mengarah kepada ki merah.
Tidak terasa dalam obrolan panjang itu akhirnya kami tiba
didepan rumah ki merah. Saya kira bapak akan langsung melabrak, marah-marah dan
menendang pintu rumahnya. Tapi nyatanya bapak bertamu dengan sopan, dia
mengetuk pintu masuk dengan pelan sambil mengucapkan salam.
Istri ki merah menyambut dengan ramah, kami dipersilahkan
masuk. Segelas teh hangat dan keripik pisang disajikan sambil menunggu ki merah
datang. Setelah bapak dan ki merah duduk berhadap-hadapan, bapak langsung mulai
berbicara.
“saya mohon ki, siapapun yang menyuruh aki tolong hentikan.
Saya sudah tak tega melihatnya.”
“apa maksudmu ?” jawab ki merah sambil cengengesan.
“sudahlah ki, kita tidak usah berpura-pura lagi.”
Raut wajah ki merah berubah menjadi serius, mungkin dia
sudah tak bisa lagi menyepelekan bapak sekarang. Setelah memuji kejelian bapak,
ki merah mulai bercerita.
“sebenarnya aku tak mau lagi menggunakan ilmu seperti ini,
kau tahu sendiri akibat ulahku dimasa lalu aku sudah dicap jelek oleh
masyarakat sini. Dikucilkan, disepelekan bahkan dipandang kriminal. Mereka
hanya bisa menghakimi tanpa pernah tahu alasanku melakukannya dulu.” Ucap ki
merah.
“ada seorang pria umurnya mungkin sama denganku, dia
mendatangiku malam-malam dan menceritakan masalahnya dengan gamblang, aku tak
tega mendengarnya. Setelah mendengar ceritanya itu aku merasa menjadi diriku
yang dulu, dia memiliki nasib sama sepertiku. Iblis dalam diriku muncul
kembali, hingga aku mengiyakan permintaanya.” Lanjut ki merah.
“memang apa yang pria itu ceritakan ? apa dia punya masalah
dengan keluarga si Asep. saya ingin mendengar alasannya ?” bapak bertanya.
ketika hendak berbicara ki merah mengajak bapak saya
keruangannya, kata dia sebaiknya ini dibicarakan empat mata saja, sial padahal
saya sangat penasaran. Sementara bapak pergi kedalam dengan ki merah, saya
menuggu diruang tamu sambil ngemil keripik pisang. Saya kira ki merah bakal seperti
di film-film horror, bengis dan juga congkak, tapi sikapnya sama saja seperti
orang pada umumnya. Malah bisa dibilang ramah, apalagi istrinya yang sudah
menyajikan cemilan ini.
Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, bapak saya kembali
bersama ki merah. Mereka langsung duduk dikursi seperti semula. Terlihat ada
ketegangan diwajah mereka, apa yang sebenarnya telah terjadi ? apa didalam tadi
mereka bertengkar.
“jadi kalau bukan aki, apa ada orang lain ?” bapak mulai
berbicara.
“aku mengaku memang sudah mengganggu keluarga si Asep, tapi
sasaranku memanglah si Asep itu sendiri bukan istrinya. Malam itu aku mengirim
dua demit untuk membawa jiwa si Asep, hanya untuk memberi pelajaran, aku
bersumpah tidak ada sedikitpun niat untuk membunuhnya. Tapi yang kena malah
istrinya, Karena terlanjut sudah terjadi, aku pikir bila istrinya menderita
maka si Asep juga akan merana. Aku juga yang mengirim peliharaanku untuk
menghalang-halangimu saat kamu hendak pergi membantu si Asep.” jawab ki merah.
Saya tiba-tiba jadi teringat kejadian dikebun teh, saat
anjing hitam yang mau menerkam bapak. Jadi itu memang benar ulahnya ki merah.
“dan aki juga yang hendak berniat mencelakakan keluarga saya
saat saya berhasil menyadarkan kembali si ratih ?” nada bapak mulai naik.
“aku memang mengirim peliharaanku untuk mengawasimu tapi
tidak memerintahkannya untuk mengganggumu.”
“istri saya diterror ki, sampai dia jatuh sakit.”
“aku bersumpah demi apapun, hanya memerintahkan peliharaanku
untuk mengawasimu, bukan untuk mengganggumu. Aku mengawasimu hanya karena kagum
padamu, soalnya orang biasa sepertimu bisa melakukan upacara jemput lelembut.
Usiamu terlalu muda untuk menguasai ilmu semacam itu.” Ucap ki merah,
entah sebuah kebenaran atau ini hanya pembelaannya saja,
saya tidak tahu.
Kemudian bapak menyuruh saya untuk menceritakan apa yang
dialami ibu. Saya bercerita kepada ki merah tentang ibu yang melihat sosok
wanita di kamar mandi, dan sosok lainnya yang menjelma menjadi teman ibu yang
sudah meninggal.
“baiklah saya akan mempercayai aki kali ini, tapi saya mohon
beritahu kemana aki membawa lagi ratih sekarang ?”
“apa maksudmu membawa lagi ratih ?” ki merah tampak
terkejut.
Ki merah malam itu memang memerintahkan peliharaanya untuk
mendatangi rumah kang Asep tapi untuk mengambil pocongan yang telah ia tanam
dihalaman rumah. Dia tersadar bahwa perbuatannya salah, karena setelah
melakukan perbuatan keji itu lagi, dia selalu dihantui bayang-bayang teh maryah.
“setiap malam, wajah maryah selalu menghantuiku. Saat tidur
dia masuk dalam mimpiku, saat sedang diam dia masuk dalam ingatan, dan saat aku
bekerjapun dia menyusup dalam bayang-bayang. Kini aku sadar ternyata balas
dendam tak membuahkan kepuasaan tapi malah penyesalan.” Ucap ki merah.
Walaupun harus mengecewakan kliennya itu, ki merah mengambil
resiko. Dia mengembalikan uang yang telah diberikan, walaupun niat awal ki
merah membantu bukan karena uangnnya tapi lebih kepada alasannya. Kita tentu
selalu ingat jika ada orang yang bernasib sama, kita seakan memiliki ikatan
emosiol dengan orang tersebut, hingga kemudian menimbulkan rasa empati seperti
mengkasihani diri sendiri.
Malam itu ki merah mengaku , dia telah berhenti urusannya
dengan klien dan keluarga kang Asep. tidak ada lagi permainan, tidak ada lagi
gangguan. Bahkan dia menyesal telah belajar ilmu seperti itu. Entah benar atau
tidak ucapan yang dikatan ki merah itu, tapi dilihat dari wajahnya tampak
sekali penyesalan yang sangat dalam. Kadang saya merasa kasihan, mungkin seumur
hidupnya ki merah menderita dibayang-bayangin dosa masa lalunya.
“jadi anjing hitam yang dikejar ratih itu bukan atas
perintah aki ?”
“sudah kubilang, aku hanya memerintahkan peliharaanku untuk
mengambil benda yang aku tanam, bukan untuk mengganggunya. Tapi kalau dia
menggong-gong dan sekarang dikejar oleh istri si asep, aku tak tahu.” Jawab ki
merah.
“Sosok seperti apa yang ibumu lihat ?” tanya ki merah
kepadaku.
“Astagfiruloh”. Belum sempat aku menjawab pertanyaan ki
merah, bapak sudah memotong.
Tiba-tiba saja bapak teringat dengan sosok wanita yang teh
ratih lihat ketika bapak melakukan jemput lelembut. Deskripsi yang ibu sebutkan
tentang sosok wanita tersebut sama persis dengan yang teh ratih ceritakan
sebelumnya.bapak menepuk jidat, katanya jangan-jangan dia melakukan kesalahan.
Bapak bilang mungkin ada arwah yang ikut dan menempel ke tubuh teh ratih saat
dia diajak keluar.
Karena takut terjadi sesuatu dengan teh ratih, usai
berbincang dengan ki merah bapak berpamitan untuk kembali kerumah kang Asep.
bapak mengerti ki merah tidak mau lagi terlibat dengan urusan seperti ini,
walaupun masih tanggung jawabnya karena telah memulai kekacauan ini. Ki merah
meminta tolong kepada bapak untuk menyelesaikan masalah ini, dia siap untuk
dimintai bantuan bila bapak membutuhkannya. tapi kalau harus terlibat secara
langsung seperti sekarang, dia takut hanya akan menimbulkan masalah baru saja.
Saya dan bapak pergi kembali kerumah kang Asep, sesampainya
disana dirumah kang Asep hanya ada ibu mertua dan adik iparnya saja. menurut
adik iparnya, teh ratih masih belum ketemu, warga yang dipimpin pak lurah masih
berusaha mencari. Terakhir katanya teh ratih terlihat pergi kearah pesawahan.
Saya dan bapak segera menyusul setelah meminjam senter.
Suasana kampung benar-benar sepi, tapi untungnnya tidak
terlalu gelap karena dilangit bulan terlihat sempurna. Dibawah bayang-bayang
bulan yang terhalang pohon-pohon besar yang menjulang, saya dan bapak berjalan
perlahan sambil mengarahkan senter kesemak-semak. Kami berniat menyusul
rombongan pak lurah ke arah sawah.
Begitu kami keluar kampung dan berjalan menuju pesawahan,
terdengar lolongan anjing dari kejauhan. Saya dan bapak saling berpandangan,
dari mana suara anjing itu berasal. Lolongan itu terdengar sekitar tiga kali,
kemudian lenyap bersama angin malam.
“kenapa rombongan pak lurah tidak terlihat juga pak ?”
Bapak tidak menjawab pertanyaanku, mulutnya tampak komat-kamit,
mungkin sedang melafalkan doa. Saya tidak bisa mengganggunya kalau bapak sedang
begitu. Saya berkonsentrasi untuk berjalan dipematang sawah yang licin, angin
sepoi-sepoi membuat bulu kuduk merinding. Pemandangan disekitar hanya terlihat
beberapa orang-orangan sawah yang dipasang petani untuk mengusir burung, tapi
jujur dalam samar-samar cahaya bulan sosok orang-orangan sawah yang tertiup
angin tampak seperti manusia yang melambai-lambai dari kejauhan.
“ikut bapa jang.” Ucap bapa tiba-tiba.
Setelah kami berjalan cukup lama dan belum bertemu juga
dengan rombongan pak lurah, saya berjalan mengikuti bapak menuju sebuah saung
kecil ditengah sawah. Saya kira bapak hendak mengajak saya beristirahat, tapi
begitu kami sampai beberapa meter lagi dari saung, terdengar suara lengkingan
anjing yang amat lirih dan pelan.
Bapak mengarahkan senter kearah saung, tapi tidak terlihat
apapun disana. Kami berjalan pelan sambil terus memperhatikan. Begitu cahaya
senter bapak menyorot kearah kolong saung terlihat sesosok tubuh dengan rambut
tergerai sedang jongkok membelakangi kami berdua. bapak mematikan lampu
senternya, kami berdua jongkok sambil jalan perlahan. Rupanya sosok itu belum
sadar dengan kedatangan kami berdua.
Saya mengira mungkin itu semacam makhluk jejadian yang baru
keluar malam-malam. Maklum ini sudah mapir jam 10. atau mungkin itu arwah yang
kebetulan sekelebat kami lihat, tapi begitu saya mendongkakan kepala, sosok itu
masih terlihat disana.
Saya dan bapak masih tetap mengawasi, perlahan sosok itu
merayap dari luar, kakinya nampak sedang menjepit sesuatu. Tapi begitu kami
memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba kepalanya berputar pelan, hingga
akhirnya kami saling bertatapan.
Itu teh ratih dengan wajah menyeramkan, matanya melotot
tajam kearah kami. karena sudah ketahuan kami beranjak berdiri. Tapi teh ratih
masih jongkok, kakinya menjepit kepala anjing hitam. Terlihat baju daster yang
ia kenakan robek dan ada bercak-bercak darah, di pahanya pun terlihat luka
gores bekas cakaran kuku anjing.
“lepaskan anjing itu ratih.” Perintah bapak.
Namun teh ratih tidak menjawab, dia malah meludah kearah
bapak. Kemudian teh ratih mengambil batu seukuran mangkok disampingnnya, dengan
sekali ayunan keatas batu tersebut ia hantamkan ke kepala anjing yang ia jepit.
Crattt ! seketika darah muncrat kemana-mana, wajah pucat teh ratih kini telah
berlumur merah. Anjing itu tak langsung mati, masih terdengar nafasnya yang
tersengal-sengal karena tenggorokannya terjepit. Hantaman kedua, ketiga terus
diluncurkan, sampai terdengar suara remukan tulang.
Kepala anjing itu kini hancur berantakan, bahkan biji
matanya terlepas keluar. Mulut moncongnya kini sudah tak berbentuk lagi.
Giginya berserakan dengan daging gusi yang masih menempel. Sungguh saya syok
melihat kejadian sadis tersebut didepan mata.
Walaupun wajah anjing itu sudah hancur, tapi teh ratih masih
belum berhenti menghantamnya dengan batu. Saya dan bapak hanya berdoa melihat
kelakuannya, sebenarnya kami hendak mencegah, tapi kalau salah malah kamilah
yang akan menjadi sasaran hantaman batu selanjutnya.
Bukan hanya wajahnya, rambut teh ratih yang tergerai telah
bercampur dengan cipratan darah, dan ceceran daging kecil yang menempel. Tidak
tampak penyesalan diwajahnya, tapi sebaliknya dia tampak geram. Saya yang
ketakutan kemudian mundur beberapa langkah, sedangkan bapak semakin maju
mendekati teh ratih.
“hentikan ratih.” Perintah bapak.
Mendengar suara bapak perhatian teh ratih pada bangkai
anjing itu teralihkan. Dengan batu yang masih ditangan sekarang teh ratih
menatap bapak lekat-lekat. Tanpa pemberitahuan dahulu teh ratih langsung
melemparkan batu ditangannya kearah bapak, melesat begitu cepat seperti batu
itu terbuat dari busa, entah apa yang merasukinya hingga kekuatannya berlipat
ganda.
Walaupun sempat menghindar, tapi lemparannya telak mengenai
lutut kanan. Bapak saya jatuh terperosok dalam lumpur sawah. saya replek
langsung mengampiri bapak, rasa takut pada teh ratih tiba-tiba saja hilang
seketika, sungguh saya geram dan hendak membalas dendam dengan melemparkan
kembali batu itu kapadanya.
Belum sempat saya membalas, teh ratih loncat kearah tiang
penyangga saung. Dalam sekejap ia naik seperti monyet menuju atap. Menyaksikan
semua itu, membuat tubuh saya mati rasa, ingin rasanya lari dan berteriak
karena ketakutan, tapi yang terjadi lutut saya malah lemas dan tenggorokan saya
terasa kosong taka da suara.
Teh ratih jongkok diatas atap saung, dengan rambut tergerai
panjang dan muka berlumuran darah. Disinari cahaya bulan diatasnya, dia tertawa
ngikik seperti kuntilanak.
“lihat merah, peliharaanmu sudah aku musnahkan, sebagai
ganjaran karena tidak bisa menyelesaikan permintaan.” Kepala teh ratih
mendongkak kelangit, kemudian ia tertawa ngikik lagi.
Untuk sesaat saya diam memaku menyaksikan kejadian
mengerikan itu, hingga akhirnya saya tersadar dan segera menolong bapak yang
masih berusaha berdiri sambil menahan sakit. luka dilutut bapak tidak terlalu
parah, tampak darah segar mengucur dan dagingnya sedikit terkelupas.
Teh ratih kembali memperhatikan kami berdua, raut wajahnya
berubah menjadi serius. “ jangan pernah ganggu urusanku, atau kuhancurkan
kepalamu seperti anjing itu baik !!”.
Kemudian teh ratih meloncat ke pematang sawah, dia merayap
dengan cepat seperti kadal. Entah akan pergi kemana, tapi dia pergi tanpa
memperhatikan kami lagi. Dari kejauhan dia seperti tenggelam dalam kegelapan,
suara gemuruh daun padi yang ditiup angin menjadi suara pengiring kepergian teh
ratih, dan lambaian orang-orangan sawah seperti ucapan selamat tinggal.
Kalau saja kaki bapak sehat mungkin dia akan mengejarnya.
Dengan luka yang masih menganga, saya membopong bapak kembali ke rumah kang
Asep, katanya kita harus lapor pak lurah sebelum terjadi hal-hal yang lebih mengerikan
pada teh ratih. Entah apa maksudnya dengan hal yang lebih mengerikan, karena
saya tak bisa lagi membayangkan hal yang lebih mengerikan dari melihat pecahan
kepala anjing didepan mata.
Saya tiba dirumah kang Asep, ternyata rombongan pak lurah
sudah berkumpul disana. bapak menceritakan kejadian yang kami alami barusan
kepada mereka. Setelah mencuci luka bapa dengan air hangat dan membungkusnya
dengan kain, kami duduk dihalaman depan bermusyawarah mengenai tindakan yang
akan selanjutnya dilakukan.
“sep, kalau kamu benar-benar sayang sama istrimu sebaiknya
kamu berkata jujur. Apakah kamu punya urusan atau masalah dengan seseorang ?”
tanya bapak kepada kang asep.
“urusan apa pak ? saya tetap curiga dengan si mardi. Dia
pasti pelakunya.” Ucap kang Asep dengan nada marah.
“bukan, urusan dengan perempuan. seseorang yang sudah
meninggal ?” lanjut bapak.
“perempuan, sudah meninggal.” Kang Asep berpikir sejenak,
menyaring ingatan dengan kata kunci urusan, perempuan dan meninggal.
“seingat saya, saya tak pernah menyakiti orang pak” jawab
kang Asep.
“ tidak menyakiti menurut kita belum tentu untuk orang lain.
Kadang kita melakukan hal yang kita anggap biasa saja, tapi menurut orang itu
menyakitkan. Coba diingat-ingat”
Semua orang disana memperhatikan wajah kang asep yang
kebingungan, dia sedang berusaha mengingat kesalahan yang mungkin saja telah
diperbuatnya. Tapi sepertinya sekeras apapun dia mencoba mengingat, memori itu
belum ia dapatkan.
Ketika kami sedang berkumpul, tibat-tiba dari arah jalan
terlihat seorang laki-laki tengah berlari menuju ke arah kami.
“pak lurah…pak lurah.. saya lihat ratih.” Teriak pria
tersebut.
Kami semua kaget, terutama kang asep. warga langsung
mengerumuni pria yang baru datang tersebut seraya bertanya apa maksud dari
ucapannya. Saya tidak medengar dengan jelas karena sedang duduk bersama bapak
tidak menghampiri. Tapi yang pasti warga termasuk pak lurah dan kang asep pergi
mengikuti pria tersebut. Saya yang masih belum paham situasinya, diajak bapak
untuk mengikuti mereka dari belakang.
Cukup lama saya dan bapak mengikuti rombongan, kami tiba
disebuah kebun jagung, diujung sana ada satu rumah yang tampak mencolok.
disinari lampu warna kuning dihalaman depannya tampak kontras ditengah
kegelapan, karena tidak ada lagi rumah lain disekitarnya. Entah apa yang mereka
bicarakan, tapi tampak pria yang menuntun kami sedari tadi menunjuk-nunjuk
rumah tersebut.
Semakin kami berjalan mendekati rumah itu, samar-samar
terdengar suara tangisan perempuan. semakin kami dekat lagi, suara itu semakin
terdengar jelas. Dan menurut kang Asep itu adalah suara tangisan teh ratih.
Saya tak tahu rumah siapa itu, tapi begitu kami mendekat, kang asep berlari
dengan segera disusul oleh beberapa warga.
Saya dan bapak masih berjalan pelan dibelakang, tapi begitu
pintu rumah yang kami tuju dibuka, beberapa warga sontak berteriak karena
kaget. Karena saya penasaran, saya berlari melihat apa yang terjadi,
meninggalkan bapak sendirian.
Kaget bukan kepalang, sesosok tubuh pria tergantung dipintu
kamar. Lehernya terikat seutas tali, mungkin pria itu bunuh diri. Jika kamu
pernah melihat orang gantung diri, itu akan menjadi memori yang membekas
dikepala seumur hidupmu. Wajahnya melotot dengan lidah terjulur, seperti
ekspresi orang yang menahan sakit luar biasa.
Pria itu sudah tua mungkin umurnya sekitar lima puluh atau
enam puluhan, mengenakan kaos oblong dan celana pendek, wajahnya terlihat biru
dengan urat diwajahnya tampak jelas. Dan yang bikin lebih mencengangkan lagi,
dibawah jasad yang tergantung itu terlihat teh ratih sedang menangis
meraung-raung sambil memegang kaki si mayat.
“ratih..ratih apa yang kamu lakukan ?” ucap kang Asep, tapi
dia tak berani mendekatinya.
Beberapa warga kebingungan termasuk saya, apa hubungan dari
kejadian teh ratih dengan mayat yang tergantung ini. Sedangkan pak lurah
langsung sibuk memerintah beberapa warganya untuk menghubungi rekan-rekannya,
seperti ketua rt dan rw karena ada kejadian yang menggemparkan ini.
Mendengar teriakan kang Asep dan warga, teh ratih langsung
berbalik badan. Dengan pipi dipenuhi air mata dia berteriak
sekencang-kencangnnya sampai kami menutup telinga.
“Bangsaatt kau Asep, baikt !!” teriak teh ratih.
Beberapa warga mencoba menghampiri teh ratih untuk
menenangkan, tapi belum sempat mendekat teh ratih berlari kearah dapur dan
mengambil parang yang terselip di dinding bilik rumah.
“Kubunuh kalian semua hah.. setannn!!! Kubunuh kalian!!”
teriak teh ratih sambil mengacung-ngacungkan parang.
Malam itu benar-benar membuat warga kampung kang Asep
gempar. Tidak begitu lama para aparat desa bermunculan, diikuti beberapa warga
baru yang mungkin penasaran. Sedangkan teh ratih masih mengamuk dibelakang
rumah.
Setelah saya bertanya-tanya mengenai asal-usul jasad yang
tergantung itu ternyata namanya adalah pak bulbul. Saya tak menanyakan lebih
lanjut bagaimana riwayatnya sampai bisa dia nekat mengakhiri hidupnya.
“Turunkan saja, kasihan pak lurah.” Celetuk salah satu warga
sambil menunjuk kearah jasad pa bulbul.
“waduhh saya bingung, ini harus lapor polisi dulu atau
langsung diturunkan saja mayatnya.” Ucap pak lurah sambil garuk-garuk kepala.
Mungkin ini kejadian untuk pertama kalinya ia alami selama menjabat jadi kepala
desa.
Sedangkan bapak dan saya pergi kebelakang rumah untuk
melihat teh ratih yang masih mengamuk. Kali ini teh ratih benar-benar sulit
untuk ditenangkan, dengan jalan yang masih tertatih-tatih bapak maju kedepan,
berhadap-hadapan langsung dengan teh ratih sementara warga yang lain
menyaksikan dibelakang.
“katakan siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan ?”
“tanya si keparat itu siapa aku.” Jawab teh ratih seraya
menunjuk kang Asep.
“bisa kamu letakan dulu parangnnya, kita omongkan ini
baik-baik.” Kata bapak.
“ hah, apa kau bilang, Baik-baik ? sementara bapaku mati
gara-gara dia kamu bilang kita harus bicara baik.baik.”kata teh ratih dengan
nada geram.
Ketika kami sedang bernegoisasi, dari kejauhan tampak
seorang pria tengah berlari. Samar-samar aku mengenal sosok itu, dan ketika
semakin mendekat saya jadi semakin yakin bahwa pria itu adalah ki merah.
“Iblis jahanam, kau membunuh peliharaanku. Keluar kau dari
tubuh wanita itu hadapi aku.” Teriak ki merah dengan nada marah.
Malam itu benar-benar gempar, teh ratih yang dihadapi dua
pria, bapak dan ki merah disaksikan warga kampung. Sedangkan pak lurah beserta
aparaturnya sibuk mengurus mayat pak bulbul.
“kau juga ikut andil dalam kematian bapakku dukun sialan.”
Ucap teh ratih ketika melihat ki merah.
Tanpa basa-basi teh ratih meloncat ke arah ki merah sembari
menyabetkan parang yang dipegangnya. Untung ki merah mengelak dengan gesit,
tapi teh ratih tambah kesal dan melancarkan serangan membabi buta. Dan diantara
sabetannya yang bertubi-tubi itu akhirnya telak satu sabetan berhasil menghujam
beberapa jari ki merah.
Cratt!! Darah muncrat ke tanah, diikuti 3 potong jari yang
terlepas dari tangan ki merah. Begitu ki merah tersungkur dan teh ratih hendak
meluncurkan sabetan selanjutnya yang mengarah ke kepala, bapa melepaskan
tendangan ke tubuh teh ratih hingga ia terpental jauh.
T
eh ratih tambah geram, dia segera bangun dan langsung
menyerang bapak dengan mengibas-ngibaskan parangnnya tanpa arah tujuan. Tapi
belum sempat parang itu mendekati bapa, kini tendangan ki merah telak membuat
tubuh teh ratih terpental kembali.
Mungkin karena tak tega melihat istrinya jadi bulan-bulanan
kedua pria, kang Asep maju kedepan. Tiba-tiba saja tubuhnya ambruk, kang asep
bersujud didepan teh ratih. Dia menangis sembari beberapa kali mengucapkan kata
maaf.
“maafkan saya sari, maafkan.”
Mendengar ucapan kang Asep membuat saya sedikit kaget, apa
yang sebenarnya terjadi. Tapi raut wajah beberapa warga tampak biasa, seperti
sudah mengetahui ada hal diantara kang Asep dengan sosok yang masuk dalam tubuh
teh ratih tersebut.
“apa kau bilang maaf ? apa kata maaf bisa membayar
semuanya.” Ucap teh ratih yang sudah sedikit tenang.
“apa yang kau inginkan sari, apa yang harus aku lakukan
untuk menebusnya.”
Ketika teh ratih hendak mengayunkan parangnnya untuk menebas
leher kang Asep. tiba-tiba ki merah meloncat menerkam tubuh teh ratih. Kemudian
ki merah berteriak meminta bantuan warga untuk memegang teh ratih. Singkat
cerita, teh ratih kini terikat pada pohon, walaupun tubuhnya terus
meronta-ronta tapi ia tak kuasa membuka ikatan tali yang sangat kencang.
Saya kemudian membopong bapak kebelakang, tampaknya dia
sudah lelah dan luka dilututnya kembali berdarah. Ki merah langsung mengambil
alih dan melakukan pengusiran.
Ki merah mempunyai caranya sendiri untuk melawan sosok yang
ada dalam tubuh teh ratih. Upacara pengusiran itu berjalan begitu alot,
beberapa kali terdengar jerit kesakitan dari teh ratih, dan wajah ki merah
dibanjiri keringat, belum lagi tangannya yang terus mengeluarkan darah.
Hinga akhirnya tubuh teh ratih tergolek lemas, sedangkan ki
merah ambruk karena kehabisan tenaga. Teh ratih digendong untuk dibawa kerumah
oleh kang Asep dan beberapa warga, sedangkan ki merah yang ambruk dibawa
kerumah pak lurah untuk dimintai keterangan. Dan tubuh pak bul-bul yang masih
membuat saya penasaran itu kini telah diturunkan, rencananya pak bul-bul akan
dibawa ke rumah rt setempat untuk dikuburkan dengan layak.
Terdengar suara tahrim sebagai penanda tragedi mengerikan
itu berakhir, semua warga kembali kerumahnya masing-masing. Saya dan bapak juga
bersiap-siap untuk pulang, tapi begitu saya menengok kebelakang untuk melihat
rumah pak bul-bul yang sudah sepi, saya melihat sosok perempuan yang sedang
menangis dilawang pintu masuk, entah siapa perempuan itu karena wajahnya
tertutup rambut. Perempuan itu menangis lirih, begitu saya bilang apa yang saya
lihat kepada bapak. Bapak hanya berucap.
“biarkan dia sendiri jang.”
Malam itu malam terpanjang yang pernah saya lalui dalam
hidup. begitu banyak darah yang terciprat, begitu banyak teriakan yang
menyakitkan telinga, begitu banyak misteri yang belum saya mengerti.
Waktu terus berjalan menghapus kenangan lama dengan kenangan
baru. Namun salah satu diantara kenangan-kenangan itu akan ada salah satu yang
membekas dan menjadi penghuni tetap dalam ingatanmu.
Sore itu saya sedang duduk diteras rumah bersama bapak,
menatap lembayung sore yang terlukis dilangit sembari menikmati kopi hitam
buatan ibu. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengutarakan sebuah
pertanyaan yang ingin saya ajukan sedari dulu.
“ pak sebenarnya apa yang dikatakan ki merah diruangannya
kepada bapak ketika kita datang kerumahnya malam itu?” lalu bapak mulai membuka
mulut hendak menjawab pertanyaan saya.
Sekitar jam 9 malam, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Ki
merah yang sedang tertidurpun tersadar, dan segera membuka pintu. Terlihat
sosok seorang lelaki tua sekitar umur lima puluhan atau enam puluhan berdiri
diluar. Raut wajahnya tampak lelah, dengan suara yang berat pria tersebut mulai
berbicara.
“4 tahun yang lalu saya memiliki seorang anak gadis, dia
anak yang baik dan juga penurut. Seperti remaja pada umumnya Setelah lulus sma
dia ingin pergi kerja ke kota. Datanglah seorang pemuda yang menawari
pekerjaan, anak saya sangat antusias ketika ditawari kerja, begitu pula dengan
saya yang juga ikut senang bila anak saya senang.” Ucap pria tersebut kepada ki
merah.
“Akhirnya anak saya bekerja, walaupun bukan dikantoran,
hanya disebuah restoran tapi bagi anak saya itu tidak apa-apa. Aki masih ingat
dengan pemuda yang telah berjasa mencarikan pekerjaan untuk anak saya ?
ternyata dia memendam perasaan pada anak saya. Setiap pulang dari kota pemuda
itu selalu mengantarnya, semua hal dia lakukan selayaknya seorang pemuda yang
sedang kasmaran untuk menarik perhatian.” Lanjut pria tua tersebut.
“tapi saya tak menyangka, ternyata anak saya tak membalas
perasaan pemuda tersebut. Karena anak saya memiliki perasaan pada lelaki lain,
yang ternyata adalah temannya ditempat kerja. hingga akhirnya saya menyuruh
pemuda yang anak saya taksir tersebut untuk datang melamar kerumah.”
“terus ?” ki merah tampak semakin penasaran.
“acara pertunangan telah dilakukan, saya dan pihak keluarga
kekasih anak saya telah merencanakan tanggal pernikahan. Namun seminggu setelah
pertunangan, kekasih anak saya datang kembali, dia hendak membatalkan
pernikahan, saya tak tahu alasannya. Tentu saja hal tersebut membuat anak saya
sakit hati, dan yang lebih menyakitkan bagi saya adalah kabar ini sudah
menyebar kepada warga kampung, anak saya tak mau keluar rumah karena dia malu
bertemu dengan orang. Tekanan dari omongan orang-orang dan sakit hati karena
telah dicampakan tak bisa lagi ditahan oleh anak saya, hingga akhirnya ketika
saya pulang dari sawah.” pria tua itu mengeluarkan air mata, seperti tercekak
ditenggorokannya dia menahan omongannya.
“jasad anak saya sudah tergantung.” Seperti mengingat kenangan
lama, pria tua itu kini menangis tak bisa lagi menahan emosinya.
“seminggu setelah kematian anak saya, seorang pemuda datang
untuk meminta maaf. Katanya dia tak menyangka perbuatan isengnnya akan berakhir
seperti ini.”
“siapa pemuda itu?” tanya ki merah
“pemuda yang cintanya ditolak sama anak saya itu ki, awalnya
saya tak terima dan sangat marah sekali. Tapi saya berpikir ulang, mungkin ini
sudah kehendak tuhan. Saya memaafkannya walaupun dengan berat hati.”
“lalu apa tujuanmu datang kemari ?” tanya ki merah lagi.
“ walaupun saya sudah memaafkan dan mencoba melupakan, namun
nyatanya tidak dengan orang-orang. Mereka terus membicarakan dan membuat
dugaan-dugaan yang tak berdasar. Kabar kematian dan gagalnya pernikahan anak
saya seperti sebuah cerita legenda yang terus menyebar dari mulut-kemulut
dengan bumbu yang luar biasa pedas. Ada yang menuduh bahwa pernikahan anak saya
batal karena calon suaminya sudah memiliki istri, ada yang menuduh bahwa anak
saya Cuma korban birahi lelaki kota saja, dan segudang dugaan-dugaan lainnya
yang mereka ciptakan dengan dasar imajinasi.”
“saya sudah tidak tahan lagi ki, selama tiga tahun hidup
dengan lirikan dan tuduhan orang. Hingga rasa dendam yang sudah saya coba kubur
dalam-dalam ini ternyata tak bisa saya sembunyikan lagi. Saya ingin pemuda itu
merasakan apa yang anak saya rasakan, bahkan sampai mati.” Lanjut pria tua itu.
“siapa yang memberitahumu bahwa aku bisa membantumu ?” tanya
ki merah lagi.
“waktu saya masih muda, kisah aki dan keluarga maryah sampai
ke kampung saya ki.”
“ohh, jadi kabar kalau aku menyantet maryah telah menyebar
kemana-mana.” Ucap ki merah dengan wajah terlihat kesal.
“seperti yang sudah saya bilang ki, kabar buruk seperti
legenda yang akan disebarkan dari mulut-ke mulut oleh orang-orang.”
“mereka tak penah tahu alasanku melakukan itu kepada maryah,
hanya melemparkan tuduhan yang tak berdasarkan seperti yang kau ucapkan. Sama
seperti tuduhan yang mereka arahkan kepada anakmu.”
“saya tak punya alasan lagi untuk hidup ki. Usia saya sudah
tua, penerus saya sudah lebih dulu pergi ke surga. saya ingin mati dengan
tenang tanpa harus menyimpan rasa dendam.”
Malam itu sebuah kesepakatan terjadi, ki merah bersedia
membantu. Walaupun pria tua tersebut menyerahkan sejumlah uang yang ia bungkus dalam
amplop coklat. Tapi lebih dari sekedar imbalan ki merah mempunyai motivasi lain
dibalik semua itu.
“siapa nama pria itu ?” tanya ki merah.
“Asep ki.”
Begitulah jawaban yang bapak berikan sore itu, terdengar
seperti sebuah dongeng untuk cerita nyata yang pernah terjadi. Saya tak tahu
lagi kabar kang Asep setelah istrinya sembuh seperti apa, terakhir dia datang
kerumah hanya mengucapkan terima kasih sambil membawa sekeranjang buah.
Sementara kabar ki merah semenjak kejadian itu citranya semakin buruk di
masyarakat, dan sudah jarang tamu yang datang dari kota kerumahnya.
Arwah wanita yang saya lihat pas kejadian dirumah pak bulbul
entah bagaimana nasibnya, apa dia telah pergi kealam baka, atau masih penasaran
dan berkeliaran. Atau jangan-jangan dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk
kembali melampiaskan dendam, saya tak pernah tahu. Dunia pergaiban tentu saja
berada diluar kuasa dan pengetahuan saya.
Bapak selalu bilang sejarah hidup seseorang akan selalu
terulang entah kepada dirinya, keturunannya atau pada orang disekitarnya.
Mungkin saya bisa belajar dari pengalaman hidup yang pernah saya lalui ini,
tapi saya tak mengerti bagian mana yang harus saya pelajari, maka saya
memutuskan untuk bertanya kepada bapak.
“pak apa pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari kejadian
ini ?”
Seperti sifat bapak yang tak mau menggurui, dia bukan
menjawabnya secara langsung tapi malah dengan sebuah cerita, setelah menyeruput
kopi hangat bapak mulai berbicara.
Seorang pria yang sedang bekerja diladang tiba-tiba saja
mendapat kabar dari temannya bahwa anaknya sakit parah. Dengan tergesa-gesa
tanpa membasuh dulu kotoran lumpur dalam tubuhnya dia menyalakan motor bebek yang
dibawanya, dia memacu kendaraannya dengan kencang membawa perasaan was-was
karena takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
Brakkk!! Tanpa diduga disebuah kelokan dia menabrak seorang
pria. Warga yang melihat kejadian itu geram dan langsung menghakiminya.
“makanya kalau bawa motor jangan ngebut-ngebut.” Teriak
salah satu warga sambil melayangkan pukulannya bertubi-tubi.
Pria yang ditabrak itu akhirnya tewas, karena mengeluarkan
banyak darah dari kepalanya. Melihat korbannya mati, warga semakin geram dan membabi-buta
menghakimi, hingga akhirnya pria yang membawa motor bebek itu juga ikut tewas.
Hari itu ada dua mayat yang tergeletak dijalan, ada dua
perempuan yang telah menjadi janda, dan ada dua anak yang telah menjadi yatim.
Namun ada puluhan warga yang mencuci tangannya disungai karena terkena cipratan
darah.
“hah, maksudnya apa pak ?” saya kebingungan setelah selesai
mendengar cerita bapak.
Tapi bapak malah berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan
saya sendiri yang masih kebingungan, hingga akhirnya adzan magrib berkumandang.
~TAMAT~
BAGAIMANA !!?? Saya harap anda dan pembaca lainnya dapat mengambil hikmah dari ap yang telah kita baca ini.. sekian dan terima kasih telah membaca
BAGAIMANA !!?? Saya harap anda dan pembaca lainnya dapat mengambil hikmah dari ap yang telah kita baca ini.. sekian dan terima kasih telah membaca






Komentar
Posting Komentar