SANTET (kisah nyata menurut yang cerita) PART I

Sebelumnya sy sudah muter muter cari bahan tulis ,, eh malah mentok -___-
Akhirnya kepikiran buat baca baca dulu, klik klik klik dan klik kaskus, 
nah ketemu deh sama trid agan yg satu ini , ada banyak hikmah , 
setelah di cerna  ini pantas untuk di konsumsi semua usia
Agan tersebut ID nya endokrin, Saya udah ijin sama YSB, dan Saya tulis ulang artikel ini dengan maksud untuk berbagi , bercerita sekaligus mengambil hikmahnya  " tanpa menambah atau mengurangi" serta tanpa ada maksud memplagiat karya beliau..
Baiklah Semoga terhibur


=====================================================================





Saya tinggal di daerah subang, nama kampungnya saya samarkan saja ya, demi kebaikan bersama . Sedangkan saya sekarang berada di kota Bandung sedang menimba ilmu di salah satu universitas. Pengalaman yg saya lihat tentang kasus ini satu bulan sebelum bulan puasa kemarin, lebih tepatnya saat saya telah libur UTS saya pulang kerumah untuk liburan,, Bapak saya adalah seorang petani dan pedagang sekaligus profesi sampingannya yaitu membantu orang, sy tak tahu harus mendifinisikan apa untuk bagian membantu ini. 



Jadi begini di desa sy ini kebudayaan hindu masih kental, sekalipun islam adalah agama resmi penduduknya tapi tradisi hindu lama tak bisa dilepaskan, seperti membakar kemenyan saat jarah ke makam, atau melakukan upacara - upacara adat di kampung seperti ruatan bumi dsb, saya tak tahu apa ini tradisi hindu atau hanya adat istiadat setempat yang pasti kebiasaan itu masih bertahan sampai sekarang.

Bapak saya belum terlalu tua, umurnya baru 45 tahun, bisa dibilang masih muda, bapak saya adalah orang yang selalu dimintai untuk mendoakan kemenyan saaat mau jarah makam atau mendoakan air untuk orang yg sakit. Mungkin bisa di bilang orang pintar atau dukun, tapi saya menolak di bilang dukun, karena bapak saya tidak membuka praktek, beliau hanya mencoba membantu orang orang disekitar dengan ilmu kebatinan dan tidak memungut bayaran, sekalipun ada sj orang yang berterima kasih dengan imbalan uang dengan nominal paling besar 20rb rupiah, sy tahu karena sering melihatnya kalau sedang di rumah. Tidak melakukan ritual aneh aneh, bila ada orang sakit biasanya bapak hanya memberikan air putih dalam botol  yg sudah dilafalkan doa-doa.

Bapak sy belajar doa-doa dan semua ilmu kebatinannya dari kakek saya, dulu sewaktu kakek sy masih hidup dia adalah sesepuh kampung sekaligus seorang " Syeh Mayit". Saya tak tahu apa sebutan nasionalnya atau nama di daerah lain julukan untuk seseorang yang berprofesi mengurusi mayat mulai dari memandikan ,menyolatkan sampai menguburkan. Tapi dikampung saya orang menyebutnya di sebut "Syeh Mayit".

Disini untuk pertama kalinya pengalaman ternaeh saya dimulai. Berawal d kedatangan seorang pemuda, usianya sekitar 25 atau 27 tahun dr kampung sebelah, Namanya maaf saya samarkan demi kebaikan bersama, sebut saja Asep. Kang Asep ini datang kerumah ba'da isya, saya masih ingat karena waktu itu sedang asyik nontn tv dan kemudian ibu sy teriak teriak nyuruh sholat.

Kang asep datang ke rumah ksrens istrinya sedang sakit, dia membawa botol mineral ukuran 1 liter, sy yang sedang asyik menonton tv di ruang tengah mendengar percakapan antara bapak dan kang asep kurang lebih seperti ini ( percakapannya dalam bahasa sunda namun saya transletkan kebahasa indonesia agar semuanya bisa mengerti) :

Kang asep : " Istri saya sudah seminggu sakit pak".
Bapak       : " Kenapa tidak di bawa ke mantri di puskesmas, memangnya sakit apa?"
Kang asep : " Lemas, ga bisa bangun. Kata pa Mantri ini sakit demam biasa aja, tp obat sudah habis masih tetap aja, besok mau di bawa ke rumah sakit rencananya. Tp sy mau inta tolong , takutnya ada apa apa gitu ".
Bapak      : " Apa-apa, apa!? " bapak memang suka bercanda.

Dikampung saya setiap kali ada orang sakit , selalu di kaitkan denga hal hal mistis, maka tak heran orang-orang lebih memilih membawa kerabat atau keluarganya yg sakit untuk berobat ke orang pintar drpada ke dokter. Tak heran sih, soalnya biaya pengobatan alternatif dinilai lebih murah drpada harus dibawa ke rumah sakit.

Bapak yang mendengar pnjelasan kang asep lalau meminta sebotol air mineral yg telah di bawa tasi, kemudian bapak memejamkan mata dan melafalkan doa-doa. Saya yg awalnya tidak tertarik kemudian beralih keruang tamu bersama ibu. Sementara bapak masih sibuk denga meditasinya, sya dan ibu mencoba berbincang  dengan Kang asep mulai dr menanyakan keadaan istrinya hingga akhirnya obrolan ngidul-ngisul yg tak jelas tujuannya.

Ketika sedang asik-asik ya kami berbincang bapak terperanjat kaget yg hampir saja menjatuhkan air dalam botol yg sedang di pegangnya. Sontak kami semua kaget melihat reaksi bapak yang tiba tiba.
"Kenapa pak ??" tanya Kang asep yg  posisinya berada di dekat bapak
"Engga, ini kirain kecoa di bawah" Jawab bapak denga bercanda seperti biasa.
Namun disaat Kang asep sudah keluar dr rumah kami, bapak berkata pada ibu dengan muka serius "kasihan istri si asep, semoga tidak apa apa". Sejak ucapan bapak hari itu saya curiga ada yang tidak beres deangan istrinya kang asep.

Benar saja, setelah tidak ada kabar selama bulan puasa, kang asep datang ke rumah 2 hari setelah lebaran. Dia bilang istrinya malah tambah parah. Istrinya sekarang malah seperti orang ayan. Kalau dulu cuma lemas, sekarang dia seperti orang gila. Kadang tertawa-tawa sendiri , kadng menangis. Bahkan yang lebih parah kata kang asep kalau sedang mengamuk istrinya bisa marah-marah tak jelas membuat kegaduhan dengan melempar barang sambil teriak-teriak.

Sekedar info kang asep ini org yg cukup berada, dia adalah bandar nanas. Orang yg suka beli nanas dr petani terus ia jual ke pasar. Oh iya dan nama istri kang asep ini saya samarkan juga yah, takutnya ada keluarga nya yg membaca, kan saya jadi ga enak membeberkan rahasia org lain hehe.. sebut saja namanya teh ratih. Kata kang asep selama bulan puasa kemarin dia dibuat kerepotan, usahanya terbengkalai, maklum dia bandar kecil jadi segala sesuatunya di urus sendiri tanpa karyawan. Uang tabungannya juga menipis karena harus bolak  balik ke rumah sakit. begitu ucapnya kepada bapak.

Gejala yang aneh dimulai ketika istri kang asep di rawat di rumah sakit. Kata kang asep waktu itu jam 1 malam sedang menjaga istrinya di kamar rumah sakit dia merasa lapar. Tanpa pikir panjang karena melihat teh ratih sudah tidur lelaap dia keluar untuk mencari makan, karena di depan rumah sakit ramai oleh pedagang yang menjajakan dagangannya.

Ketika selesai makan kang asep balik lagi ke kamar, teh ratih sudah tidak ada di ranjangnya. Awalnya dia ga merasa aneh atau curiga karena mungkin sedang ke kamar mandi yang letaknya emang berada di luar kamar, maklum walaupun kang asep ini orang yang cukup berada tapi hanya mampu menyewa kamar kelas 3 yang minim fasilitas dan isi pasiennya bisa sampe 6 orang.

15menit berlalu teh ratih belum juga datang, maka kang asep berinisiatif buat melihat ke kamar mandi. Ketika sampai di depan pintu kamar mandi dia mengetuk pintu sambil memanggil nama istrinya. Namun ternyata pintu tidak di kunci, kang asep kaget bukan kepalangketika melihat istrinya sedang jongkok seperti anjing dan menjilati air WC, dia muntah sejadi jadinya melihat kelakuan istrinya yang di luar nalar itu. Wajah teh ratih pucat, maya melotot sempurna, lidahnya melet melet seperti anjing . Begitu ucap kang asep kepada bapak sore itu.

Mendengar cerita kang asep tentang istrinya membuat bulu kuduk saya merinding dan juga merasa mual.Apalagi ibu yang tak kuat dan langsung pergi ke kamar mandi. Sejak melihat kejadian itu kang asep merasa yakin bahwa istrinya bukan sakit biasa, bukan sakit secara lahiriyah. Maka dibawa pulanglah teh ratih ke rumah.

Saya yang telah cukup lama tinggal di Bandung bisa dibilang bergelut dengan dunia modernisasi tidak kepikiran waktu itu bahwa teh ratih di guna guna, keimanan saya pada hal-hal mistis sedikit demi sedikit telah luntur. lagian guna guna atau santet setahu saya yang sering lihat di tv biasanya cuma sakit perut, muntah darah atau muntah paku. Himgga akhirnya bapak berkata bahwa istri kang asep ini  ada yang ganggu. "saya juga yakin pak, tp siapa orang nya koq sampe tega , perasaan saya tak pernah bertengkar sama orang atau nyakitin hati orang." ujar kang asep kepada bapak denga raut wajah penuh tanya. "saya tidak tahu sep." bapak tak menjawab rasa penasaran kang asep.

Saya tidak tahu pakah bapak benar benar tidak tahu atau hanya menjaga situasi agar tetap kondusif. Maklum masalah ghaib itukan susah untuk dibuktikan secara kasat mata, walaupun kita sudah tahu siapa pelakunya tapi tanpa bukti yang jelas takutnya di bilang fitnah, mungkin bapak menjaga agar kang asep tidak bertindak sembroni.

"saya harus gimana?? mohon bantuanyya lah pak ?"
"saya juga ga terlalu paham sep, masalah beginian. Biasanya bapak cuma ngusir orang yang di tempelin jurg jarian saja ( jurig jarian itu istilah untuk setan kelas bawah yg biasanya diam di tempat tempat seram sperti pohon beringin dsb) tapi insyaalloh bapak coba bantu sebisa mungkin".Mendengar permintaan kang asep , Bapak tampak kebingungan.

Tidak seperti biasanya kali ini bapak tak memberikan air yang sudah didoakan, mungkin beda perkara. Bapak hanya menyuruh kang asep pulang dan memberikan semacam hafalan atau doa khusus yang telah di tulis bapak dalam kertas, katanya untuk diamalkan sehabis sholat isya.

sebelum pamitan kang asep meminta nomer hp bapak, jaga jaga untuk keadaan darurat katanya. Walaupun desa saya terpencil dan listriknya masih belum stabil karena sering mati lampu, tp semua penduduknya sudah punya handponewalaupun masih tipe tipe nokia jadul hehe..

setelah kedatangan kang asep untuk yang kedua kalimya bapak jadi sering bangun malam untuk wirid. Saya biasanya kebangun karena mendengar cipratan air ketika bapak berwudhu di kamar mandi. Setelah dua hari, tepat jam 8 malam kang asep nelpon. Kami yang sedang asik berkumpul di runag tengah,ibu,saya dan kedua adik perempuan saya jadi ikut gelisah melihat bapak mondar mandir sambil menelepon.
"kenapa pak?" tanya ibu.
"ini si asep, katanya istrinya kumat lagi. Jang ayo antar bapak ke rumah si asep." setelah menutup telponnya mengajaku untuk mengantarnya . Dengan terpaksa mata saya yg siudah mengantuk sebenarnya, mengantar bapak karena tidak mau disebut anak durhaka.






Saya dan bapak berangkat jam 9 . Molor satu jam semenjak kang Asep menelpon karena menunggu bapak dikamar entah sedang ritual apa, mungkin sedang melafalkan doa doa.

Di kampung saya jam 9 malam itu udah setara dengan jam 12 malam, karena seisi kampung sudah pada tidur. Tidak ada tempat hiburan, tidak ada pedagang dan tidak ada hingar bingar lampu jalanan seperti saat saya di Bandung. Setelah ba'da isya biasanya sudah jarang orang yang keluar rumah,kalaupun ada hanya bila ada keperluan saja itupun beberapa orang. Para pemuda-pemudi pun hanya keluar atau main malam pas ada hajatan saja, seperti dangdut, wayang golek atau layar tancap. Mereka lebih memilih diam dirumah dan nonton TV, kecuali bapak-bapak yang kebagian buat ronda, sekaliipun sekarang ronda sudah jarang aktif lagi, paling banter siskamling dikatifkan lagi kalau sedang musim pencurian saja.

Saya mengeluarkan motor bebek , motor lama kesayangna bapak yang hobinya ngadat kalau kehujanan. Honda astera legenda peninggalan  jaman muda bapak yang masih tersisa. Ibu meminta ijin kepada bapak untuk ikut tidur di rumah tetangga mba waryah seorang janda, entah kenapa suasana rumah menjadi mencekam setelah mendapat telpon dari kang asep. Ibu saya memang seorang penakut.

Sekedar info jarak antara kampung saya dengan kampungnya kang asep itu sekitar 8 Km, kampung kami di pisahkan oleh perkebunan teh. Melewati jalan besar yang jelek, maklum jalan- jalan diperkampungan jarang diperhatikan mengingat mungkin pemerintah menganggap bukan jalan utama yang terlalu ramai.

Sayangnya kebun teh untuk bagian dalam atau dipelosok tidak seindah perkebunan teh dipinggir jalan raya. Seperti di ciater misalnya yang pemandangan kebun tehnya begitu indah karena seperti savana hijau. Kebun teh bagian dalamnya, khususnya yang menghubungkan kampung kami ini ditanami pohon mahoni,sempur dan berbagai jenis pohon lainnya. Memang teduh kalau pada siang hari, Tapi kalau malam hari terasa horor melihat pohon- pohon besar itu berdiri.

Saya menyalakan  motor dan membonceng bapak, dengan bismillah kami berdua berangkat menuju ke rumah kang asep. Walupun kami masih melewati jalan kampung tapi suasana sepi begitu menyelimuti. maklum didesa saya jarak antar rumah ke rumah lumayan renggang tidak seperti dikota yang padat dan saling menempel antar tetangga. tidak ada seorang pun yang kami temui di jalan, mungkin karena sudah larut dan orang-orang sudah terlelap di dalam mimpinya.

"bapak memang sudah tahu rumahnya kang asep?' aku membuka obrolan untuk mengusir dinginnya malam, entah kenapa malam ini angin begitu kencang sehingga rasa dingin seperti menusuk tulang.

"nanti dia nuggu di pinggir jalan katanya."

Setelah melewati jalan perkampungan, kemudian kami akan melewati perkebunan warga, yang di domisisli oleh kebun nanans. Buah nanas memang menjadi komoditi disini, kalian pasti sudah tahu bahwa kota subang memang penghasil nanas.

Disetiap kebun nanas warga selalu menanam pohon bambu, karena pohon bambu sangat berguna disini selain bisa dibuat untuk pagar,tiang dan anyaman. Bambu mudanya juga bisa dimakan. Bayangkan pemandangan pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dimalam hari, Belum lagi ketika tertiup angin, pohon bambu ini akan bergoyang dan menghasilkan bunyi karen saling bergesekan. Tidak ketinggalan bunyi dari daunnya yang melambai lambai seperti tangn di kegelapan. Belum lagi mitos didesa kami bahwa pohon bambu biasany menjasi sarang atau tempat makluk halus bersemayam.

Saya mebawa motor dengan pelan, untuk menghindari jalanan yang berlubang. Tidak ada lampu jalan yang menerangi, hanya sebatas lamu depan motor yang menjadi petunjuk di depan. Keadaan benar benar gelap, karena langit tampaknya mendung mau hujan karena tidak terlihat satu bintangpun.

Konsentrasi saya terpecah antara membawa motor dan perasaan takut yang tiba tiba saja menyelimuti. Belum lagi dinginnya angin malam yang membuat wajah saya terasa kaku. Ketika sedang merasa takut pasti pernah merasakan  bahwa kita selalu merasa sedang diikuti, perasaan untuk menengok kebelakang dan kesamping selalu saja menggoda kita. Pandangan di depan pun tak kalah horor karean gelap gulita, perasaan was was kalau tiba tiba saja lampu motor menyorot sesuatu yang mengerikan selalu menghantui.

Ngomong-ngomong soalmenengok kebelakang. Mitos dikampung saya atau daerah lain juga sama? konon katanya kalua kita seedang jalan sendirian ditempat yang sepi, ketika takut dan merasa di ikuti selalu saja kita tiba-tiba kita ingin menengok kebelakang karena katanya . Jangan pernah menengok kebelakang karena katanya menengok kebelakang sama dengan lambaian tangan untuk sihantu. Dia akan merasa diajak atau dipanggil sehingga akan mengikuti kita.

Setelah melewati jalan yang diapit kebun nanas, masuklah kita kejalan utama. Maksudnya jalan yang sukup besar dan kalau siang hari menjasi tempat lalu lalang kendaraan warga. Tapi sayangnya ini malam hari jadi keadaan sepi.


Kebun teh yang pada siang hari terlihat adem dengan pohon rindangnya, dimalam hari begitu menyeramkan, terdengar suara gemuruh ketika daun dan dahan saling bergesekan karena angin. Lengkap dengan suara jangkrik. Ingin rasanya saya menarik pedal gas hingga kecepatan maksimal, tapi sayang kondisi jalan yang jelek tidak memungkinkan.

“baca ayat kursi jang.” bisik bapak saya tiba-tiba.

Mendengar perintah bapak saya merasa panik, maksud hati ingin bertanya alasannya tapi saya lebih memilih diam saja. saya hanya menebak mungkin karena kita melewati sebuah tanjakan. Dikampung saya ini ada sebuah tanjakan, hanya terkenal disekitaran kampung saja, katanya dulu kata bapak saat saya masih kecil, tepat dipinggir tanjakan ada sebuah pohon mahoni besar tempat dimana dulu ada orang gantung diri.
Tanjakan ini juga biasanya menjadi tempat para begal bersembunyi untuk merampok korbannya. Beberapa kali pernah terjadi kasus begal dan tkpnya selalu disini. Mungkin si perampok ingin memanfaatkan keadaan panik dari pengendara.

Setelah melewati tanjakan itu, disamping kami ada suara krasak-krusuk. Saya mengira itu hanya suara musang yang lewat atau mencari makan. Tapi suara itu seperti mengikuti kami, saya yang gemetar dan ingin menengok kesamping ditepuk oleh bapak dan menyuruh untuk melanjutkan dan jangan berhenti.
Saat sedang menyetir dengan perasaan deg-deggan samar-samar didepan terlihat sepasang mata. Bersinar tampak kontras ditengah kegelapan. Seketika saya menginjak rem, bapak merasa kaget karena saya berhenti tiba-tiba.

“kenapa jang ?”

“itu didepan apa ?” jawab saya pelan sambil menunjuk kedepan.

“astagfirruloh, kita dihalangi agar jangan datang kerumah si Asep”. Jawab bapak pelan.

Tidak terlihat jelas, hanya samar-samar terlihat mata itu ditengah jalan. Tapi mata itu posisinya berada dibawah, seperti sedang berjongkok. Saya mengira itu musang tadi yang mengikuti kami. Saya tidak mengerti ucapan bapak yang katanya jalan kita dihalangi.

“gimana pak ?”

Bapak lalu turun dari motor, waktu itu saya kepikiran jangan-jangan begal. Lalu bapak teriak-teriak manggil “saha didinya-saha didinya ?” (siapa disana ?). saya menyarankan untuk putar balik buat pulang tapi bapak membentak saya.

Karena teriakan bapak tak kunjung ada jawaban, dan kedua sinar mata itu ga juga pergi. Maka bapak memutuskan untuk mengambil batu segede kepala tangan, dilemparlah batu itu kedepan. Mata itu tidak juga pergi, malah anteng aja didepan seperti menatap kami. Karena mungkin bapak merasa kesal bapak menyuruh saya untuk jalan pelan-pelan. Awalnya saya menolak karena ketakutan, tapi bapak memutuskan untuk jalan duluan diikuti saya dari belakang. Lampu motor disenter jarak jauh buat mastiin apa yang ada didepan itu. Saya dan bapak jalan dengan pelan.

Begitu lampu motor perlahan menyorot cahaya mata itu, kaget bukan kepalang sampe saya tak sengaja menekan klakson. Seekor anjing hitam berdiri persis ditengah jalan. Tubuhnya seukuran anjing normal, tapi bulunya hitam legam, matanya berwarna hijau. dengan lidah terjulur keluar anjing itu menatap kami berdua.
Seketika bulu kuduk saya merinding, tentu saja ini bukan anjing biasa. Walaupun dikampung saya ada yang punya anjing, saya yakin tak pernah melihat anjing dengan warna hitam, jadi bisa dipastikan ini bukan anjing milik warga. Bapak mengusir dengan melambai-lambaikan tangan sambil bilang huss..huss. tapi anjing itu tak terusik sedikitpun.

Mungkin karena bapak kesal karena si anjing tak mau juga pergi, maka bapak menyuruh saya untuk jalan saja. lagian anjing itu berdiri ditengah jalan, mungkin kita bisa jalan dipinggir saja mengingat ini jalanan lebar. Tapi saya tak berani, menolak permintaan bapak. Entah kenapa walaupun itu seekor anjing dan saya sering melihat anjing tapi perasaan takut tak bisa dibohongi mungkin karena melihat kelakuan anjing yang seperti itu pada malam hari terasa tidak wajar. Maka bapak memutuskan untuk membonceng saya dibelakang.

Baru saja kita berjalan sebentar anjing itu berdiri sigap. Matanya yang tadi polos bulat kini menyipit menatap kami, menunjukan gigi runcingnya seperti hendak menerkam. Karena kaget bapak menginjak rem, waktu itu saya benar-benar ketakutan setengah mati sampai tanpa disadari memeluk pinggang bapak kuat-kuat.
Si anjing menggong-gong keras kearah kami. Bayangkan suara gonggongan anjing malam-malam ditengah kebun teh yang gelap gulita. Suara itu membahana dan menimbulkan gema, saya komat-kamit membaca ayat kursi, entah bacaan saya benar atau salah saya tak ingat lagi karena saking paniknya. Tapi bapak malah menatap anjing itu seolah sedang menantangnya, tapi kayanya bapak deg-degan juga, soalnya waktu saya ketakutan dan meluk pinggang bapak terasa jantungnya berdetak dengan kecang didada.

Anjing itu tampaknya menyuruh kami untuk pulang, seakan-akan menghalangi kami untuk datang kerumah kang Asep. saya tak berani melihat kearah anjing itu, tapi sesekali mengintip dari pundak bapak, anjing itu tampak geram seperti ingin menyerang kami. Saya terus melafalkan ayat kursi kali ini dengan suara keras karena saking takutnya.

Bapak dan anjing itu saling bertatapan cukup lama seperti sedang melakukan perbincangan secara batin, saya hanya menduga saja tak bisa memastikan. Hingga kemudian suara handphone bapak berdering kembali, tapi bapak sepertinya tidak terusik sama sekali terus beratapan dengan anjing itu. Karena saya merasa gelisah dan takut mendengar suara handpone dalam kesunyian, saya memberanikan diri mengambil handphone bapak dari saku jaketnya. Ternyata Kang asep menelpon, kemudian saya mengangkatnya.

“assalamualaikum, punten pa, masih dimana yah ? “

Saya hendak menceritakan apa yang kami alami disini, siapa tahu kang Asep bisa membantu untuk menjemput kami. Tapi saya malah menjawab

“lagi dijalan kang sebentar lagi.” Kemudian saya menutup telponnya saking takutnya



Entah berapa lama bapak dan anjing itu terus bertatapan, hingga anjing itu menggong-gong sejadi-jadinya tanpa henti. Saya menutup telinga karena tidak kuat dengan suaranya yang sangat keras. Sambil menggonggong si anjing mulai melangkahkan kakinya, wajahnya tetap menyeringai hendak menerkam.

Bapak yang merasa ditantang si anjing kemudian turun dari motor. saya yang waktu itu ketakutan mencoba menarik jaket bapak untuk menahannya, tapi bapak malah menggubris tangan saya dan terus berjalan seperti ingin meladeni tantangan si anjing. Tanpa diduga bapak mengeluarkan sebuah lidi dari balik jaketnya, panjangnya sekitar dari jari tengah tangan sampai siku. Mungkin bapak sudah menduga kejadian ini, dan saat tadi dirumah berlama-lama dikamarnya sedang mempersiapkan hal-hal yang mungkin akan terjadi diluar dugaannya.

Bapak mengacungkan lidi tersebut, sambil mengayun-ngayunkannya ke arah si anjing seperti hendak mencambuk. Anjing hitam itu menghentikan langkahnya, namun wajahnya tampak lebih marah. Saya yang waktu itu melihat adegan tersebut panik, takut kalau-kalau si anjing loncat dan menerkam muka bapak. Saya merasa heran bagaimana bisa bapak melawan seekor anjing yang tampak ganas dengan sebatang lidi.

Tapi rupanya ilmu saya terlalu cetek untuk memahami tingkah bapak. Setelah terus-menerus bapak mengayun-ngayunkan lidi itu, si anjing hitam secara perlahan mundur. Tapi wajahnya terus menyeringai, tampak air liurnya keluar menetes dengan deras dari mulutnya yang lebar. Beberapa kali si anjing mondar mandir ke kiri dan ke kanan tapi tatapannya tak pernah lepas dari bapak, seperti hendak mencari celah untuk menyerang.

Kali ini bapak mulai memberanikan diri meloncat kedepan hendak mecabuk si anjing hitam, namun dengan gesit si anjing mundur menghindari cambukan bapak yang kemudian berlari kebelakang. Seringai seram si anjing mulai hilang, tapi matanya yang bersinar hijau dikegelapan itu tetap menatap kami. seperti gagal melakukan misi si anjing memutuskan untuk pergi, ia masuk ke semak-semak kebun teh, yang kemudian diikutin suara gong-gongngannya beberapa kali. Kini anjing itu hilang ditelan kegelapan malam.

Karena saya terlanjur syok dan kaki saya gemetaran karena ketakutan, maka ketika melanjutkan perjalanan kerumah kang Asep bapaklah yang membawa motor sementara saya duduk dibelakang. Tentu saja saya duduk dibelakang dengan perasaan was-was takut kalau-kalau si anjing itu balik lagi dan menerkam saya dari belakang.
Tapi tidak begitu lama, dari arah depan tampak sebuah cahaya lampu bulat berwarna kuning. Ketika jarak kami mulai dekat, terlihat bahwa itu kang Asep dan seorang pria yang tidak saya kenal dibonceng dibelakangnya.

“saya menyusul, takut terjadi apa-apa. Soalnya pas tadi ditelpon katanya lagi dijalan. Takut kalau ban motornya bapak bocor.” Kata kang asep kepada bapak.

“engga, Cuma pelan aja bawa motornya, maklum jalannya jelek.” Saya heran, kenapa bapak tak menceritakan peristiwa yang baru saja kami alami. Mungkin bapak tidak mau membuat suasana semakin panik.

kami berangkat melanjutkan perjalanan, motor kang asep mengikuti kami dari belakang. Sekarang saya sedikit tenang, seandainya anjing itu datang lagi dan hendak menerkam, setidaknya masih ada orang dibalakang saya.
Akhirnya kami tiba dikampung kang asep. setelah masuk ke jalan kecil dan melewati kebun singkong sebuah rumah dengan cat putih terlihat. Kang asep membunyikan klakson, saya menduga dia ingin memberitahu bahwa itu rumahnya.

Begitu kami masuk rumah, kang Asep memperkenalkan kami dengan mertuanya, seorang wanita parubaya dan adik iparnya yang tadi ikut bersama kang asep dibonceng dibelakang. Dirumah itu Cuma mereka bertiga kata kang asep, bapak mertuanya sekitar 2 bulan yang lalu sudah meninggal. Tadi sore rumah ini sempat ramai oleh tetangganya yang ingin menjenguk,tapi sekarang sudah sepi.

Setelah minum kopi hangat sajian mertua kang asep, kami dibawa kekamar untuk melihat kondisi istrinya yang sakit. sebenarnya saya ingin duduk saja sambil menikmati kopi dan cemilan yang disajikan, namun karena rasa penasaran saya mengikuti bapak dari belakang.

Tampak Seorang wanita mengenakan daster merah motif kembang-kembang sedang duduk berbalut selimut. Rambutnya panjang tergerai, dengan kulit sawo matang. Tatapannya kosong kearah jendela, sepertinya dia tidak sadar dengan kedatangan kami. Kemudian kang Asep memperkenalkan bahwa wanita itu istrinya, teh Ratih.
“neng..neng…neng” bapak memanggil-manggil teh Ratih.

Teh ratih tidak merespon, dia masih anteng melihat kearah jendela. Wajah teh ratih tampak pucat, lingkarang hitam disekeliling matanya tampak jelas (istilahnya mungkin mata panda) kata kang Asep istrinya itu jarang sekali tidur, kalau tidak kumat ya kerjaannya seperti itu bengong. badannya juga kurus, bahkan tulang belikat dibawah lehernyapun terlihat.

Bapak menyuruh kang asep untuk mengambil segelas air putih, setelah dibawakan bapak kemudian melafalkan doa-doa. Setelah selesai, sedikit demi sedikit air itu dicipratkan kewajah teh Ratih. namun kaget bukan main semua orang yang ada dikamar itu termasuk saya ketika melihat reaksi teh ratih saat menerima cipratan air doa dari bapak. Tangannya menyamber gelas yang sedang dipegang bapak, hingga terpental kearah tembok. Bunyi denting gelas terbentur Cumiikan telinga, hingga pecahan kacanya berhamburan kemana-mana, bahkan hampir saja mengenai mata mertua kang Asep.

Teh Ratih berubah ekpresi yang tadinya kalem dan kosong kini tampak marah. Matanya melotot sempurna, giginya menyeringai bahkan terdengar gemeletuk dari gigi yang ditekan secara berlebihan sehingga terasa ngilu bagi kita yang mendengar. Deru nafasnya semakin kencang seperti orang yang sedang menahan amarah. teh ratih menyender ketembok seakan sedang ancang-ancang untuk menyerang, jari tangannya terus mencakar–cakar tembok membuat ngilu bagi yang melihat apalagi mendengar suaranya.
“ini bukan istrimu sep” kata bapak pelan.

Baru saja bapak lengah menengok kearah kang asep, teh ratih loncak menerkam bapak. Kini leher bapak berada dalam cengkaraman teh ratih, kami yang panik melihat kejadian itu segera menarik tubuh teh ratih. Bayangkan tiga orang pria, saya, kang asep dan adik iparnya menarik tubuh seorang wanita kurus secara logika seharusnya bukan masalah. Tapi diluar dugaan kami, teh ratih masih kokoh mencekik bapak tidak goyah sedikitpun bahkan saat kami beritiga menariknya sekuat tenaga.

Ibu mertuanya yang panik, menangis sambil berlari keluar mungkin hendak mencari bantuan. Sementara kami terus berusaha melepaskan teh ratih. Muka bapak tampak merah, nafasnya tersengal-sengal tapi bibirnya tampak berkomat-kamit mungkin sedang melafalkan doa. Teh ratih medekatkan wajahnya kearah bapak hingga mulutnya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari muka bapak, dan tanpa disangka-sangka dia berteriak sejadi-jadinya. Kami yang sedang berusaha menarik tubuh teh Ratih replek menutup telinga.

Setelah berteriak teh Ratih loncat kearah depan melepaskan cengkramannya. Kemudian istri kang asep itu jongkok menatap kami. Seperti seekor binatang, teh ratih tampak tidak peduli lagi dengan penampilannya, dasternya yang robek bagian sampingnnya karena dia bergerak lincah dan tak teratur, sehingga bagian tubuh sensitifnya terlihat kemana-mana, tapi laki-laki mana yang akan birahi ketika melihat model wanita yang sedang dalam kondisi seperti kesetanan.

Tidak begitu lama ibu mertua kang Asep datang bersama rombongan, sekitar 8 orang dengan dua permpuan dan sisanya laki-laki. Mereka tampak keheranan menatap teh ratih didepan pintu masuk. Saat lengah itulah bapak menyentuh kepala teh ratih tepat dibagian jidat, bapak mencengkaramnya dengan kuat. Teh ratih berteriak-teriak, merontak bahkan tak segan untuk mencakar dan menedang tubuh bapak.

“bantu saya, pegang tangan dan kakinya” teriak bapak pada kami. Sontak semua pria yang ada disana ikut
membantu.

Walaupun tangan dan kakinya sudah dipegang kuat, tapi tampaknya teh tarih masih berusaha melawan bapak dengan memajukan mulutnya untuk menggigit. Mungkin saking kesalnya karena gigitannya tak juga kena, teh ratih meludahi bapak beberapa kali. Tapi bapak tak gentar dengan serangan yang dilakukan, hingga akhirnya teh ratih tergolek lemas tak berdaya. Setelah keadaan tenang teh ratih ditidurkan kembali diatas ranjangnya.

Menurut bapak yang ada dialam tubuh teh ratih bukan nyawanya sendiri, tapi mungkin setan suruhan seseorang sedangkan nyawa teh ratih tersesat berkeliaran. Saya kira kejadian itu hanya terjadi dalam film saja, ternyata nyawa bisa juga keluar dari tubuh kita dan tersesat. Entah benar atau hanya mengada-ngada dengan apa yang diucapkan bapak, tapi bila melihat kejadian yang baru saja terjadi memaksa saya untuk sedikit meyakininya.

“dia sedang kelelahan, mungkin nanti akan kumat lagi sep.” kata bapak.

“terus saya harus gimana pak ?”

Lalu bapak menjelaskan kepada kang asep bahwa ini pengalaman pertamanya menangani kasus seperti ini, dulu memang kejadian seperti ini pernah terjadi, tapi bapak hanya sebatas menyaksikan saja tak ikut andil dalam mengobati.

“kita harus melakukan upacara “ngajemput lelembut”. Kata bapak kepada mas asep.

istilah “ngajemput lelembut” ini kalau dalam bahasa indonesia bisa diartikan menjemput nyawa. Menurut bapak Dahulu kala Konon upacara ini sering dilakukan atau lumrah dikampung. Karena dulu saat kampung kami masih benar-benar hutan dan masih banyak tempat-tampat keramat banyak orang-orang yang tersesat atau linglung tak bisa pulang, padahal secara penglihatan lahir orang tesebut hanya tertidur, biasanya jasadnya disembunyikan si setan di semak-semak atau bahkah didahan-dahan pohon besar. Orang yang biasanya diisengi setan itu karena melanggar atau berlaku tidak sopan, seperti mengencingi sebuah pohon atau duduk diatas makan tanpa sengaja.

Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk diam dirumah kang asep, bersama bapak-bapak yang lain tetangganya kami berbincang seru, seakan melupakan kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Saya ikut nimbrung tapi tidak ikut mengobrol, hanya menikmati kopi dan kacang rebus yang disediakan mertua kang Asep.
Hingga akhirnya “tahrim” berkumandang. Tahrim itu kalau dikampung saya adalah istilah untuk membangunkan orang untuk sholat subuh, jadi biasanya seseorang datang ke masjid dan membaca alquran melalu speaker, hal itu dilakukan sampai tiba waktunya adzan subuh. Dikampung saya biasanya tahrim dimulai dari jam setengah empat pagi.


Saya dan bapak berpamitan untuk pulang, memburu untuk sholat subuh dirumah. Tapi sebelum pulang bapak berpesan dengan suara pelan agar mas asep mengorek-ngorek halaman depan atau belakang rumahnya untuk mencari benda-benda aneh yang mungkin saja ditanam oleh seseorang.





Sepulang dari rumah kang Asep, saya tidur kebablasan, jam setengah 1 siang baru bangun. Dan ketika hendak ke kamar mandi saya melihat bapak sedang membersihkan “parabot”. Istilah “parabot” ini adalah sebutan untuk benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang dikampung saya. Kebetulan bapak punya warisan sebuah kujang dan pedang kecil lebih mirip golok sebenarnya yang dikasih dari kakek saya dulu, konon benda-benda pusaka ini harus dibawa saat upacara nyambut lelembut, katanya jaga-jaga kalau ada setan yang bengal hendak menyerang.

Saya yang tidak ada kerjaan, kemudian hendak membantu bapak untuk membersihkannya. Tapi bapak membentak saya ketika saya mau memegang kujang. Katanya tidak sembarang orang bisa membersihkannya. Benda-benda pusaka ini hanya boleh dicuci saat bulan mulud saja dan satu lagi ketika hendak dipakai. Itupun saat dicuci dengan ritual atau mungkin bacaan tertentu, telihat bapak membersihkannya tidak digosok dengan sikat atau dicelupkannya kedalam air, tapi dibersihkan dengan jeruk nipis pelan-pelan.

Takutnya ada yang salah paham, memandikan benda pusaka bukan berarti menyembah atau mengagungkannya. Apa yang dilakukan bapak hanya sekedar menghormati, semoga tidak ada orang yang menganggap bahwa perbuatan ini termasuk syirik atau menyekutukan tuhan.

Setelah selesai membersihkan pusakanya, kemudian bapak menyiapkan perlatan lain untuk melakukan upacara nyambut lelembut, yaitu kain batik bermotif merak, menurut kepercayaan disini merak bisa digambarkan sebagai makhluk penuntun kita dari alam gaib. Satu liter beras yang menyimbolkan hasil bumi, untuk membedakan dunia nyata dan gaib. sebutir telor ayam kampung yang menyimbolkan kelahiran, awal kehidupan yang baru.

Rencananya nyambut lelembut akan dilakukan setelah sholat isya, jadi nanti malam bapak akan kerumah kang Asep lagi, saya yang awalnya tidak mau ikut karena takut terjadi hal-hal aneh lagi dijalan tapi tak tega melihat bapak pergi sendirian. Jadi saya memutuskan untuk ikut lagi, dan berharap kali ini semua normal-normal saja.

Setelah melaksanakan sholat magrib, sekitar jam setengah tujuhan, kang Asep datang kerumah. Mungkin maksudnya untuk menjemput bapak, tapi bapak tidak mau berangkat sebelum adzan isya tiba, saya tidak tahu apa maksudnya. Akhirnya kang Asep menunggu sambil berbincang bersama ibu dan saya diruang tamu, sementara bapak masih sibuk menyiapkan barang-barang tadi siang yang hendak dibawa.

Setelah adzan berkumandang dan menunaikan sholat isya, bapak menghampiri kami diruang tamu. Dia duduk sambil menyalakan sebatang roko, sumpah baru kali ini saya melihat bapak meroko. Karena setahu saya bapak bukan seorang peroko. Dan yang bikin saya heran lagi roko yang dihisap bapak adalah roko lama merek sriwidari, sekedar info roko merek sriwidari ini biasanya bagian dari persembahan ketika upacara adat.

Seakan mengerti dengan tatapan bapak, kang Asep kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda yang dibungkus pelastik bening. Sebuah bungkusan kain putih yang berbentuk pocong kecil, ukurannya kira-kira sebesar lilin.

“ini ditemukan di pojok rumah saya pak, dikubur dibawah batu, saya curiga karena seinget saya tak pernah menaruh batu dihalaman.” Kata kang asep kepada bapak.

“buka sep,” perintah bapak.

Kemudian kang asep membuka bungkusan pocong itu, didalamnya terdapat “harupat”. Harupat itu bentuknya seperti lidi namun berwarna hitam. Harupat adalah bagian dari batang pohon aren. Juga sebundel rambut kusut, dan sebotol cairan merah yang saya tak tahu apa namanya tapi yang pasti itu bukan darah. warnah merahnya bening, tampak seperti minyak angin Cuma tidak berbau saja.

“orang ini niat banget pengen celakain kamu, hanya orang yang benar-benar sakit hati yang melakukan ini sep.” ucap bapak, kemudian ia menghisap rokonya dalam-dalam tampak sangat menikmati sekali.

“saya udah inget-inget, tapi perasaan saya tidak pernah berurusan serius sama orang pa.” entah benar atau bohong yang diucapkan kang Asep, walaupun secara logika tidak mungkin orang menyerang tanpa sebab kecuali orang gila, dan orang gila tidak mungkin isengnya sampai seniat ini pikir saya.

“yaudah ga usah dinget-inget, nanti tambah mumet. Yang penting sekarang istrimu bisa pulih lagi.” Jawab bapak santai

Bapak mematikan rokonya yang tinggal setengah, lalu ia mengambil bungkusan pocong yang sejak tadi tergeletak dimeja. Mulutnya komat-kamit seperti biasa melafalkan doa, kemudian ditiupkan pada bungkusan pocong ditangannya. Setelah selesai bapak meletakannya kembali diatas meja sembari menyuruh ibu untuk mengambil sebuah rantang.

“bakar sep” perintah bapak.

Setelah rantang dibawa sama ibu, dibakarlah pocongan itu oleh kang Asep yang kemudian abunya dimasukan kedalam rantang. Tidak memerlukan minyak tanah karena benda-benda itu mudah sekali terbakar, khusunya rambut dan harupat.

“ini rantangnya kamu bawa, abunya kamu bungkus dengan kain. Dan besok pagi-pagi kamu hanyutkan di kali.” Perintah bapak kepada kang Asep.

Setelah selesai membakar pocongan, kami bersiap-siap untuk berangkat. Seperti biasa ibu pamitan mau menginap lagi dirumah mba waryah dengan membawa kedua adik saya. Kang Asep membawa peralatan dalam ransel dengan motornya, sedangkan saya dan bapak mengikuti dari belakang. Kali ini saya sedikit tenang karena kita berangkat jam setengah delapan malam, dimana jalanan mungkin masih ada orang lalu lalang. Khusunya tukang ojeg yang pulang kemaleman dari pangkalan pasar.

Setelah sampai, ternyata dirumah kang Asep udah ada beberapa orang tetangganya yang sedang menjenguk. Tapi begitu kami datang mereka berpamitan pulang, seperti mengerti mereka tak mau mengganggu privasi. Sementara teh Ratih tampak tenang diranjang, walaupun masih setengah sadar. Menurut kang Asep semenjak dari kemarin teh Ratih belum kumat lagi, dia udah mulai tidur tidak seperti sebelum-sebelumnya.

“sekarang aja pa dimulai ?” pinta kang Asep kepada bapak.

Bapak langsung bergerak membuka isi ranselnya, menyiapkan beras yang kemudian dituangkan kedalam mangkok. Sebutir telur ditaruh diatas beras, sedangkan kujang diletakan berdampingan. bapak menyuruh kang Asep agar teh ratih dibopong keruang tengah.

Digelarlah tikar, teh ratih tidur terlentang diatasnya tanpa bantal, setelah bapak menyiprat-nyipratkan air keseluruh tubuh teh Ratih, kemudian tubuhnya ditutupi kain batik bermotif merak yang sudah bapak bawa. Kini teh Ratih terlentang seperti mayat ditutupi kain, tapi anehnya kali ini dia tidak melawan, malah pasrah saja seperti orang kebingungan. Bapak menyuruh kami yang berada disitu untuk membaca ayat kursi berulang-ulang. Katanya untuk menjaga tubuhnya agar tak dimasukin setan sembarangan, selama bapak pergi untuk menyusul teh Ratih kealam gaib.

Bapak bersila sambil memejamkan mata, mulutnya komat-kamit seperti biasa melafalkan doa. Sedangkan saya, kang Asep beserta mertua dan adik iparnya membaca ayat kursi tak henti-henti. Mungkin sekitar setengah jam man tidak ada perubahan berarti kami masih tetap seperti ini, hingga akhirnya tubuh teh Ratih yang tertutup kain batik itu menggelapar-gelepar seperti ikan didaratan.

Bulu kuduk saya merinding ketika menyaksikan kejadian tersebut, kami yang berada dibelakang bapak saling menatap kebingungan. Kang Asep hendak menghampiri istrinya yang masih menggelepar, tapi saya menahan. Saya mengingatkan mungkin sebaiknya kita tidak melakukan apa-apa dulu sebelum mendengar perintah selanjutnya dari Bapak. Maka kamipun melanjutkan membaca ayat kursi seperti yang diperintahkan tadi.

Tidak begitu lama sekitar dua puluh menitan, tiba-tiba tubuh teh Ratih bangun, dia menarik nafas panjang seperti seseorang yang baru saja tenggelam didalam air. Sontak kami semua loncat karena kaget, terutama mertua kang Asep yang sudah tua mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengelus dadanya.

“kang ?” begitu sadar teh Ratih langsung memanggil suaminya. Kemudian ia bangun dan memeluk ibunya yang masih merasa kaget. Kedua wanita itu saling berpelukan sambil menangis.

Setelah semuanya kondusif, dan teh Ratih terasadar, kami duduk diruang tengah, kang asep yang mungkin penasaran bertanya kepada istrinnya apa yang terjadi selama ia sakit. Maka teh Ratih mulai menceritakan pengalaman horronya kepada kami.

Menurut teh ratih kejadian itu berawal disatu hari sebelum ia sakit, waktu itu jam 11 malam ia masih ingat karena saat menonton tv dan merasa ngantuk. maka setelah melihat jam ia memutuskan untuk tidur. Teh ratih sendirian dirumah karena kang Asep sedang mengantar nanas pesenan ke daerah purwakarta waktu itu.

Ketika teh Ratih baru beberapa menit menutup mata, terdengar suara ketukan dipintu. Kemudian ia bangun dan membuka pintu, terlihat dua orang pria berdiri didepannya. Yang satu menggunakan kaos oblong, dan yang satu lagi mengenakan jaket kulit. Dengan nada terburu-buru pria yang mengenakan jaket memberitahu bahwa kang Asep kecelakaan, dan dipastikan tewas. Jasadnya sekarang berada dirumah sakit.

Teh Ratih yang mendengar kabar tersebut, merasa kaget. Ingatannya mungkin berada pada titik sadar dan tidak sadar. Lututnya merasa lemas dan ingin pingsan, bahkan ia menangis berteriak-teriak, kedua pria itu mencoba menenangkan teh Ratih. Menurut teh Ratih kalau dipikir sekarang tidak masuk akal katanya, waktu itu ia menangis cukup kencang sambil beteriak-teriak memanggil kang Asep tapi anehnya tak ada satu tetanggapun yang datang.

Setelah teh ratih merasa tenang, kedua pria itu menyuruhnya untuk bersiap-siap pergi kerumah sakit. Teh Ratih mengikuti saja semua perintahnya mungkin karena dia sudah merasa syok duluan mendengar suaminya meninggal. Dan ketika bapak bertanya bagiamana dia pergi kerumah sakit bersama kedua orang tua itu, teh ratih mencoba berpikir dan mengingat-ngingat.

“naik delman pak. Astagfirulloh saya baru ingat.” Jawab teh Ratih yang kemudian mukanya berubah menjadi ketakutan.

Kalau dipikir secara logika tak mungkin pergi kerumah sakit menggunakan delman. Bagi yang belum tahu delman itu adalah kereta kuda, atau didaerah lain disebutnya andong. Mungkin tak sadar karena selama perjalanan teh Ratih menangis, hingga akhirnya ia berhenti ditengah jalan. Kedua pria itu ijin untuk pergi buang kecil.

Tapi cukup lama pergi, kedua pria itu belum juga datang. Teh ratih yang daritadi merasa sedih hingga menghiraukan sekitar, kini ia mulai tersadar. Ia mulai merasa takut, bahkan ketika menengok kiri dan kanan ia merasa awam, jalanannya bukan jalanan seperti yang biasa ia lewati. Dan baru tersadar bahwa ia berada ditengah hutan.

Bayangkan ditengah hutan sendirian, duduk diatas andong hanya ditemani lampu kelenting yang tergantung didepan. Bahkan kuda yang tadi mengangkut andongnya juga mendadak hilang. teh Ratih tak bisa berbuat apa-apa ketika dia ia ditinggalkan kecuali menangis sendirian. Teh Ratih mencoba turun sambil memanggil-manggil kedua pria tadi, tapi nihil tidak ada jawaban.


Teh Ratih kebingungan, dia mau teriak tapi takut karena dihutan itu ga ada siapa-siapa. Mau jalan takut tersesat. Akhirnya dia memutuskan untuk diam diatas andong. Kini pikiran teh Ratih tak lagi fokus pada kabar kematian suaminya, ia sekarang malah bersedih karena ga bisa pulang. Selama menunggu itu menurut teh Ratih beberapa kali dia mendengar suara ramai orang lagi baca yasinan, tapi tak tahu arahnya dari mana yang pasti suara itu berdengung ditelinganya. Mungkin karena selama teh Ratih sakit, kang Asep beberapa kali mengadakan pengajian rutin dirumah.

Karena saya penasaran, maka bertanya berapa lama dan apa saja yang dilakukan teh Ratih waktu itu. Dia bercerita ketika sedang duduk diatas andong, dia didatangi seorang perempuan. Dia tak bisa memastikan wajahnya, tapi wanita itu mengenakan kebaya dan kerudung tapi rambutnya tergerai kedepan. samar-samar dia bisa melihat matanya yang bulat menatap tajam kearahnya.

“siapa dia teh ?” saya melanjutkan pertanyaan.

Teh Ratih menjawab bahwa wanita itu hanya muncul kadang-kadang, mula-mulai hanya kepalanya saja yang terlihat sedang mengintip dibalik pohon. Kemudian sedikit demi sedikit dia mulai berani menampakan diri. Tapi dia tak pernah mau dekat, jaraknya sekitar beberapa meter dari tempat teh Ratih duduk.

“kenapa teteh tak bertanya atau menghampirinya ?” saya masih belum puas dengan jawaban teh Ratih.

“coba kamu bayangkan, saya duduk di hutan. Gelap gulita, sinar hanya berasal dari lampu kelenting itupun redup karena tertiup angin. Bahkan saya berusaha menjaga apinya agar tidak padam. Kemudian ada seorang perempuan yang memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan yang menakutkan. Memangnya kamu bakal berani menghampiri lalu bertanya siapa dia ?”

Jawaban teh ratih membuat tubuh saya merinding. Berada ditengah kebun teh saja waktu dicegat anjing hitam kemarin hampir membuat saya kencing dicelana, apalagi teh Ratih sendirian dihutan.

Tempat teh Ratih tersesat juga saya tanyakan apakah benar-benar hutan, dia menjawab tak tahu juga, yang pasti tempat dimana teh Ratih berada banyak pohon-pohon besar berdiri dan dia berada ditengah jalan lebar yang membentang, tapi bukan jalanan aspal. Dia memastikan itu jalanan tanah, seperti tanah liat, soalnya saat dia turun dari andong, kakinya kotor oleh lumpur.

Kata bapak untung teh ratih ga keliaran, soalnya kalau dia turun dan masuk kedalam hutan, pencarian bapak ga bakal secepat ini. Bahkan yang paling mengerikan mungkin teh Ratih ga bakal ditemukan, dia akan tersesat selamanya.

Menurut bapak ini cara paling sadis dalam mencelakakan orang, soalnya kalau hanya sekedar kirim paku, muntah darah atau bahkan sakit kepala, medianya hanya menggunakan boneka dan itu cara paling kasar, masih bisa dilihat dengan kasat mata. Tapi kalau sudah sampai menarik sukma dan menggantinya dengan siluman, itu cara paling halus tapi mematikan.

“berapa lama teh Ratih disana ?” saya masih penasaran.

“saya tak tahu, tapi mungkin tidak sampai sehari. Soalnya selama disana, hutan tetap gelap gulita. Hingga akhirnya saya melihat bapak, awalnya saya pikir bapak orang jahat yang hendak mencelakakan saya. Sampai akhirnya saya merasa yakin karena terdengar suara ibu samar-samar memanggil nama saya.”

Gila pikir saya, teh ratih sakit sudah hampir satu bulan lebih, tapi dia disana tidak sampai satu malam. saya ingin menanyakan perbedaan waktu ini kepada bapak, tapi rasanya waktunya tidak tepat jadi saya urungkan niat, kapan-kapan saja.

“oh iya pak mengenai wanita yang selalu memperhatikan saya itu siapa yah ?” tanya teh Ratih kepada bapak, mungkin dia juga penasaran.

Tapi bapak menjawab sewaktu menjemput teh Ratih, dia tak melihat apapun. Itu bisa siapa saja, tapi bapak bilang tak penting lagi, yang penting sekarang teh Ratih sudah sembuh. Bapak berpesan agar nanti sebelum tidur berdoa dulu, bisa alfatihah atau bahkan bismilah juga tidak apa-apa. Setidaknya ada penjagaan, bila ada hal-hal aneh kita bisa tersadar.

Dua orang pria yang menjemput teh ratih itu adalah suruhan kata bapak, mereka ditugaskan untuk menjemput sukma teh Ratih. Mendengar keterangan bapak teh Ratih baru sadar bahwa saat dia bangun dan membuka pintu itu ternyata hanya sukmanya saja, sedangkan jasadnya masih terbujur ditempat tidur, saat itulah siluman suruhan masuk menggantikannya.

“pak apa bapak bisa untuk membalikan santet ini, agar dikembalikan kepada yang mengirim, hanya sekedar untuk ngasih pelajaran saja ?” kata kang Asep.

Mendengar perkataan kang Asep, bapak merasa kaget atau mungkin marah. Saya tahu ekspresi bapak kalau sedang menahan kesal atau marah saat sedang dirumah. Tapi bapak tidak menunjukan kemarahannya, dia lebih memilih diam dan menarik nafas dalam-dalam. Saya juga sedikit aneh mendengar kata-kata kang asep, koq kesannya kang Asep seperti menyuruh bapak untuk menyantet orang.

“huss. Ga boleh gitu sep. sukur alhamdulilah istrimu sudah sembuh juga. Ga usah macam-macam dan nyari perkara lagi.” Jawab mertua kang Asep.

“takutnya kalau ga dikasih pelajaran, orang yang mencelakakan saya ini ga kapok dan bakal berulah lagi.” Sepertinya kang Asep ngotot sekali.

Untuk mencairkan suasana, bapa bercerita tentang kisah serupa seperti yang dialami hari ini. Kejadian ini ketika dia masih remaja katanya. Waktu itu ada salah satu tetangga bapak mengalami hal yang sama seperti teh Ratih, bahkan lebih parah. Mari kita sebut saja tetangga bapak ini teh Maryah.

Teh Maryah ini kondisinya sama seperti teh Ratih kalau sedang kumat, tapi parahnya lagi Teh Maryah suka berkeliaran dihutan, jadi dulu dibelakang kampung kami itu masih ada hutan liar sebelum akhirnya hutan tersebut dibuka pemerintah untuk dijadikan perkebunan teh seperti sekarang.

Bapak masih ingat, sekitar tengah malam kalau ga salah, tiba-tiba terdengar suara kentongan dari bale desa. Orang-orang ribut dan berbondong-bondong keluar rumah untuk menghampiri kearah sumber suara. Biasanya kentongan hanya dibunyikan kalau dalam keadaan darurat saja, kalau ada maling atau terjadi bencana. Maklum dulu gunung tangkuban perahu beberapa kali masuk dalam kondisi waspada, himbauan dari pemerintah.

“ ada apa kang ?” Bapak saya keluar rumah dan menanyakan apa yang terjadi, takut kalau-kalau gunung tangkuban perahu meletus.

“ga tahu, mungkin ada maling sapi lagi.” Jawab orang yang lewat kepada bapak.

Bapak yang masih remaja waktu itu bersama kakek saya ikut keluar untuk pergi ke balai desa, walaupun nenek menyuruh bapak untuk diam saja dirumah karena khawatir terjadi apa-apa. Tapi bapak saya persis seperti saya sekarang mempunyai rasa penasaran yang amat tinggi, atau mungkin waktu itu usianya yang masih remaja jadi rasa ingin tahunya sangat besar terhadap sesuatu.

Bapak saya datang ke bale desa bersama beberapa warga pria lainnya, disana sudah ada pak lurah dan suami teh Maryah. Beberapa warga yang belum tahu duduk perkaranya mulai berargumen macem-macem mulai dari ada yang kemalingan, ada yang meninggal sampe bilang ada teroris masuk kampung. Sampai akhirnya pak lurah menceritakan semuanya

Rumah pak lurah berdampingan dengan balai desa, biasanya yang membunyikan kentongan adalah warga yang ronda dengan seijin pak lurah. Tapi anehnya koq suara kentongan itu tiba-tiba sampai membangunkannya. Begitu pak lurah mengecek keluar rumah katanya dia melihat kang Solihin suaminya teh Maryah sedang memukul kentongan sambil menangis.

Kentongan kandung dipukul dan warga sudah terlanjur panik, maka kang Solihin yang masih terisak menjelaskan kepada kami semua kenapa dia bisa sampai memukul kentongan desa.

“saya sedang tidur lelap, tiba-tiba saya dibangunkan istri. Katanya dia minta dianter buat buang air besar, setelah itu saya mengantarnya ke sungai.” Ucap kang Solihin masih dalam keadaan terisak-isak.

Sekedar info pas jaman bapak saya dulu jarang warga yang mempunyai WC didalam rumah, hanya orang-orang kaya tertentu saja yang punya. segala aktivitas seperti mencuci, mandi dan buang air semua dilakukan di sungai, yang letaknya terpisah dari pemukiman. Sungainya cukup besar, ada batu-batu besar yang menjulang, tapi kalau musim hujan tiba batu-batu itu terendam karena air meluap. Dan juga dihulu ada air terjun yang cukup tinggi, sehingga dari hilir kita bisa mendengar suara gemuruh air terjun, kalau pada siang hari indah dan banyak anak-anak yang berenang disana, tapi kalau malam hari ga ada yang berani kecuali orang kebelet saja, begitu menurut bapak.

“saya suruh dia untuk jongkok dibatu pinggir saja, karena saya khawatir air sungai sedang meluap karena tadi sore hujan. Tapi dia menolak, takutnya ada orang lewat katanya, saya kira sekarang masih jam 8. Maka saya mengijinkannya saja ketika dia mau maju ke batu yang berada di tengah sungai.” Kang Solihin melanjutkan ceritanya.

Gila pikir saya, kang solihin tidak sadar bahwa ini hampir jam satu malam. para warga mulai berpendapat macam-macam tanpa mendengar penjelasan kang Solihin sampai selesai, bahkan ada yang bertanya kepada kang Solihin apa istrinya hanyut disungai.

“saya tak bisa memastikan waktunya, tapi saya rasa cukup lama, koq istri saya belum selesai-selesai. Saat saya menyorotkan lampu senter kearahnya dia memang masih terlihat jongkok diatas batu, saya panggil-panggil agar cepat-cepat, karena saya tidak kuat menahan kantuk. Tapi dia tetap tidak merespon.” Seperti tidak kuat kang solihin kembali menangis sejadi-jadinya.

“lah koq nangis, gimana istrimu solihin ?” warga yang tidak sabar mulai merasa kesal karena kang solohin malah nangis dan bukan menyelesaikan ceritanya.

Maka pak lurah turun tangan, karena sebelumnya kang solihin sudah menceritakan kejadian ini kepadanya. Menurut pak lurah teh Maryah tidak menengok saat dipanggil, kang Solihin memutuskan untuk mengambil batu kecil, lalu dilemparkanlah batu itu ke tubuh teh maryah, awalnya dia takut kalau teh Maryah ketiduran. Tapi tidak begitu lama teh maryah menengok kearah kang Solihin.

Namun ada yang aneh dengan istrinya kang solihin, saat menengok dia melihat muka seram bukan main, matanya melotot sempurna, wajahnya pucat pasi, rambutnya tergerai menutupi sebelah wajahnya dengan senyum misterius. Kang solihin langsung tersentak kaget dan juga takut tentunya. Bahkan yang lebih mengerikan lagi menurut kang Solihin istirnya itu tertawa ngikik.

Karena ketakutan kang solihin terpaku diam menyaksikan istrinya yang berubah, hingga akhirnya teh Maryah meloncat-loncat diatas batu dia pergi menuju hulu, kearah air terjun.


Malam semakin larut, saya dan keluarga Kang Asep semakin penasaran dengan kisah Bapak waktu muda. ditemani segelas kopi dan singkong rebus sebagai cemilan, bapak melanjutkan kisahnya. Saya tahu maksud bapak menceritakan kisah mudanya dulu, mungkin untuk memberi pelajaran kepada kang Asep, atau mungkin hanya untuk menenangkannya agar Kang Asep tidak menaruh dendam kepada pelaku santet istrinya. Bapak bukan tipe ditaktor, dia tak pernah menggurui orang, termasuk saat memberi tahu saya tentang pelajaran hidup. Dia lebih suka menceritakan sebuah kisah dan membiarkan yang mendengar mencernanya sendiri. Karena menurut bapak sejarah hidup seseorang akan selalu terulang entah pada diri sendiri, Lingkungan atau bagi anak cucunya dimasa mendatang, maka dari itu kenapa ada istilah “pengalaman adalah guru yang terbaik” begitu menurut bapak.

“lalu apa yang terjadi pada istri kang Solihin selanjutnya pak ?” saya semakin penasaran.

Pak lurah memerintahkan warga untuk melakukan pencarian. Sebagian warga yang tidak setuju dengan pak lurah mengajukan usulan kenapa tidak besok pagi saja mengingat ini sudah hampir jam setengah dua malam. akhirnya warga terbelah dua, ada yang pulang karena mungkin besok harus bekerja diladang, ada yang peduli dan mau untuk ikut mencari teh Maryah. Pak lurah tidak bisa berkata apa-apa dia juga harus menghormati
pendapat warganya, tapi setidaknya masih ada warga yang mau ikut membantu kang solihin.

Bapak dan kakek saya termasuk kedalam warga yang ingin ikut mencari teh waryah. Kata bapak warga yang waktu itu ikut bersama pak lurah untuk menyusul teh Maryah berjumlah sekitar 21 orang.

Setelah rapat, pak lurah memutuskan untuk melakukan pencarian disekitaran sungai. Warga yang sudah siap dengan peralatan dapurnya berkumpul dibalai desa. Konon katanya kalau ada orang yang hilang malam-malam, saat mencari warga biasanya sambil memukul-mukul alat dapur tersebut, bisa panci atau wajan. Bunyi itu dipercaya bisa untuk mengusir makhluk jejadian, biasanya sih praktek ini dilakukan untuk mencari anak yang hilang karena dibawa wewe gombel. Tapi karena kita tak tahu apa yang terjadi pada teh Maryah maka tidak ada salahnya dengan mencoba cara yang sama.

Sebelum berangkat pak lurah memimpin doa. Kemudian pencarian dimulai, sebagian warga bertugas untuk memegang senter dan menjadi penunjuk jalan, sebagian lagi memukul-mukul alat dapur sambil memanggil-manggil nama teh Maryah.

“neng Maryah… neng Maryah.. neng Maryah.” Teriak warga, suaranya membahana berlomba dengan suara gemuruh air terjun dihulu sungai.

“dimana terakhir kali istirimu terlihat solihin ?” tanya salah satu warga.

“disitu, diatas batu itu, sebelum akhirnya dia pergi meloncat-loncat menuju ke hulu.” Jawab kang solihin.

Keadaan sungai benar-benar gelap gulita. salah satu warga yang berani, mencoba turun kesungai sambil membawa senter. Dia menyorotkan cahaya kearah hulu, namun nihil katanya tak melihat apapun selain gundukan batu. Salah satu warga ini berinisiatif untuk mencarinya dengan menelusuri sungai berjalan diatas batu menuju hulu, tapi pak lurah menghentikannya, terlalu bahaya, takut tergelincir dan terbawa arus. Bukannya menyelesaikan masalah keadaan malah tambah darurat saja katanya.

“jangan-jangan istrimu sudah hanyut.” Celetuk salah satu warga.

“huss, jangan begitu.” Bentak pak lurah.

“apa kita harus ke air terjun pa lurah ? saya ga mau kalau begitu.” Semua warga berhenti tiba-tiba dan mereka saling menatap satu sama lain ketika mendengar ucapan rekannya.

Air terjun didesa kami cukup tinggi, airnya juga cukup deras apalagi tadi sore habis hujan. Disekitar air terjun banyak pohon beringin berdiri. Kabar angin yang berselentingan tentang betapa angkernya tempat itu telah menciutkan nyali beberapa warga malam ini, termasuk pak lurah mungkin karena dia tidak berkomentar sama sekali.

“kang Toha aja duluan, akang kan udah biasa ngurusin mayat jadi pasti berani.” Kata salah satu warga kepada kakek saya.

Toha Cuma nama samaran, nama kakek saya yang sebenarnya saya rahasiakan. Waktu itu kakek saya masih menjadi muridnya dari syeh mayit yang lama dan belum diangkat. kakek saya masih muda jadi belum terlalu bijak dalam mengambil keputusan menurut bapak, hingga akhirnya dia menyerahkan semua keputusan kepada pak lurah saja.

Perdebatan berjalan alot, hingga akhirnya warga terbelah kembali menjadi dua kelompok. Kelompok yang ingin pulang karena tidak berani menuju air terjun malam-malam, dan kelompok yang sebenarnya tidak berani juga namun tak tega dengan kang Solihin, termasuk pak lurah dan kakek saya didalamnya. Sedangkan bapak saya pulang bersama warga lainnya.

“jadi bapak tak tahu apa yang terjadi malam itu di air terjun karena pulang ?” saya semakin antusias dengan cerita bapak, sepertinya yang lain juga. Karena kang Asep beserta istrinya tampak mendengarkan dengan serius.

Tidak begitu lama kacang rebus yang masih mengepulkan asap datang, disajikan mertua kang Asep sebagai teman dalam mendengarkan cerita bapak. Setelah menyeruput kopi beberapa kali bapak melanjutkan ceritanya.

Menurut cerita kakek kepada bapak, malam itu yang pergi ke air terjun berjumlah delapan orang. Ketika sampai di air terjum, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena suara teriakan teredam oleh gemuruhnya air. Lampu senter yang dibawa disorotkan kekiri dan kekanan, sebagian lagi menyingkab semak-semak untuk mencari keberadaan teh Maryah.

Menurut kakek, beberapa kali dia mendengar suara tangisan wanita. Tapi dia merasa tak yakin, karena disekitarnya berisik oleh suara air, dan juga rekan-rekan yang lain tampak anteng seperti tidak mendengar apa-apa. Entah kebetulan atau disengaja, ketika kakek saya menyorotkan lampu senternya kearah sungai seperti ada tangan yang melambai-lambai, mungkinkah itu teh Maryah yang tenggelam.

“astagfiruloh itu.. disungai..itu..itu.” teriak kakek saya panik.

Sontak semua warga termasuk pak lurah menyorotkan senternya kearah sungai yang ditunjuk-tunjuk oleh kakek saya. Namun ternyata nihil tidak ada apapun disana.

“ada apa kang toha ?”

“tadi saya melihat tangan muncul dari sungai dan melambai-lambai, mungkin itu si Maryah.” Jawab kakek saya.

Semua orang saling bertatapan dengan kebingungan. Bagaimana bisa orang melambaikan tangan diarus sungai yang begitu deras, seandainya pun tenggelam pasti sudah terbawa arus. Tapi untuk memastikan semua senter mengarah kearah sungai mencari-cari dimana keberadaan tangan yang dimaksud kakek saya. Hingga akhirnya kakek saya mendengar suara tangisan itu lagi ditelinganya.

“pak lurah denger sesuatu ga ?” tanya kakek saya.

“suara air maksud kang toha ? saya ga denger apapun selain gemuruh air.”

Dari situlah kakek tersadar, mungkin kabar selentingan tentang angkernya air terjun dimalam hari benar adanya. Untuk menjaga situasi tetap kondusif, kakek saya membisikan apa yang dialaminya kepada pak lurah, tentang suara wanita yang menangis dan terus berdengung ditelinganya. Pak lurah yang mendengar bisikan, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, bahkan beberapa kali dia menelan ludah.

“semuanya pencarian kita hentikan dulu, mengingat sudah lama kita disini dan belum ada hasil, besok kita lanjutkan lagi pagi-pagi”. Teriak pak lurah kepada warganya yang masih sibuk menyorotkan senter kesegala arah.

Pencarian teh maryah malam itu berakhir, begitu menurut bapak. Hingga akhirnya teh maryah ditemukan dua hari kemudian diatas pohon beringin persis disamping air terjun oleh anak kecil yang mau berenang disana, penemuan kembali teh Maryah itu sempat menggemparkan kampung.

Semenjak ditemukan hari itu keadaan teh Maryah tak pernah normal lagi, keadaannya persis seperti teh Ratih menurut bapak. Bahkan lebih parah, saat sedang kumat teh Maryah lebih gila lagi, dia suka berkeliaran seperti orang kebingungan. Tempat favoritnya kalau menghilang menurut bapak kalau tidak disungai, ya dihutan belakang kampung.

Teh Ratih masih beruntung bisa disembuhkan, berbeda dengan teh Maryah yang akhirnya menjadi gila, bahkan keluarganya yang cape karena terus menghilang memasungnya dibelakang dirumah. Hingga akhir hayatnya teh maryah tak pernah sembuh lagi.

“terus gimana dengan kang solihin pak ?” tanya saya karena penasaran.

“dia sempat masuk penjara, tapi belum ada kabar lagi tentangnya. Menurut kabar sih dulu setelah keluar penjara dia pergi keluar jawa. Entah ke sumatra, kalimantan atau entah kemana tak ada yang tahu.” Jawab bapak.

“lah koq bisa dipenjara ?” Akhirnya teh ratih tertarik juga dan ikut bertanya.

Menurut bapak ketika teh Maryah sakit, kang Solihin sibuk mencari paranormal untuk menyembuhkan istrinya. Hingga ia mendapatkan orang kepercayaan yang diyakini bisa menyembuhkan istrinya, mungkin karena kang Solihin masih muda dan egonya terlalu tinggi, selain menyembuhkan teh Maryah, ia malah menyuruh orang pintar kepercayaannya untuk menyantet balik si pelaku.

Hampir satu minggu kampung geger oleh suara dentuman seperti ledakan ditengah malam menurut beberapa warga yang mendengar. Bahkan warga yang ikut ronda , tak sengaja melihat bola api terbang. kabar itu sulit untuk diungkap karena hanya beberapa warga saja yang melihat. Tapi menurut kakek saya yang mempunyai sedikit ilmu kebatinan suara itu terjadi karena ada perang ilmu yang tak kasat mata.

Menurut bapak dia tidak tahu apa yang terjadi, apa mungkin si orang kepercayaan kang solihin ini kalah atau bagaimana. Yang pasti seminggu kemudian kang Solihin ngamuk-ngamuk sambil membawa golok kerumah salah satu warga dikampung bapak, yang tak lain adalah seorang paranormal juga. Dia hendak membunuh pria ini, untung beberapa warga menghalangi. Walaupun begitu, paranormal muda yang tak lain adalah masih kerabat pak lurah ini tak bisa luput dari bacokan golok kang Solihin. Tapi untungnya kerabat pak lurah ini berhasil diselamatkan.

Kang solihin yakin bahwa pria muda ini adalah pelaku penyantetan istrinya, namun karena hal-hal gaib sulit untuk dibuktikan dipersidangan, eh malah kang solihin yang masuk penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan.
Begitu mendengar akhir kisah bapak, kami semua diam. Untunglah hal mengerikan itu kini tinggal kenangan.Waktu menunjukan jam 11 malam, tiba-tiba saya teringat ucapan bapak bahwa sejarah hidup akan selalu terulang entah menimpa siapapun diluar sana. Hingga saya menatap kang Asep dengan penuh tanda tanya…


Dua hari berlalu, semenjak obrolan tengah malam dirumah kang Asep. kehidupan kembali normal, walaupun saya belum mengerti untuk standar yang dikatakan normal itu seperti apa. Teh Ratih kembali pulih, kang Asep sedikit demi sedikit kembali menjalankan usahanya yang satu bulan kebelakang sempat terpuruk.
Untuk penjagaan agar tak ada yang kembali lagi mengganggu teh Ratih, bapak melakukan upacara adat yang dinamakan “numbal imah”.

Numbal imah ini semacam kebudayaan lama, yang masih ada dikampung saya. biasanya dilakukan ketika sebuah rumah baru berdiri, atau keluarga yang akan pindah kerumah baru. Menurut kepercayaan penduduk dikampung saya, hal ini dilakukan sebagai tolak bala, agar rumah tersebut terhindar dari marabahaya dan gangguan hal-hal yang tak kasat mata.

Numbal imah bukan sebuah upacara besar, dengan ritual yang aneh-aneh. Hanya menancapkan 4 bambu kuning dengan panjang sekitar 10 centimeter di empat penjuru rumah. Setelah itu dilakukan sukuran dengan mengundang para tetangga untuk melakukan pengajian dengan diakhiri acara makan-makan. Jika dilihat dari sudut pandang sosialnya, mungkin sebenarnya tradisi numbal imah ini hanya untuk merekatkan hubungan silaturahmi sesama warga.

Jangan terlalu berpikir negatif, kami hanya menjalankan tradisi. Menghormati warisan filosofi hidup leluhur terdahulu kami. Karena apapun upacara yang dilakukan hanyalah sebuah cara, ketentuan kita serahkan dan kembalikan pada sang pencipta, yang bagi umat islam seperti kita yaitu alloh subhanawataala.
Saya kira semuanya akan baik-baik saja, namun ternyata manusia memang tak bisa lepas dari masalah. Hingga akhirnya terror yang dialami kang asep kini pindah ke keluarga saya. Yang pertama kali menyadari bahwa keluarga kami sedang diganggu adalah ibu.

Ibu bercerita kepada saya, sebelum akhirnya dia juga bercerita kepada bapa tentang hal-hal aneh yang dialaminya. Kejadian itu diawali ketika kami sedang bakar-bakar sate ayam. 4 ekor ayam broiler dikirim paman saya yang baru saja panen di peternakannya. Sekitar jam 10 malam keluarga saya masih belum tidur, masih asik memanggang tusukan sate dihalaman belakang, dapur lebih tepatnya.

Kebetulan rumah saya memiliki dapur yang terpisah dari bagian rumah. letaknya beberapa meter saja dari rumah. Dapur kami ini tiang-tiangnya terbuat dari kayu, dindingnya dari anyaman bambu atau orang-orang biasa menyebutnya “bilik”. Dengan atap genteng lama yang sudah berwarna coklat. Sebuah dapur yang cukup luas, selain ditempati koleksi perabotan dapur milik ibu disana juga ada bangku berbentuk persegi empat, tempat dimana bisanya kami makan bersama-sama.

Bapak masih sibuk mengipas-ngipas arang agar dagingnya cepat matang, sementara ibu sibuk meracik bumbu kacang. Dan kedua adik perempuan saya tampak lahap menikmati setiap potongan daging empuk berwarna coklat karena terbalut kecap.

“koq bau amis ya pak.” Ucap ibu saya ketika sedang mengolesi daging dengan jeruk nipis dan kecap manis.

“ah, engga. Daging ayamkan baunya ga terlalu bu, ga kaya daging kambing.” Jawab bapak.

“bukan, bukan dari daging pa, dari luar kayanya.” Sambil mengendus-ngendus ibu mencari arah bau berasal.

Karena mendengar ucapan ibu, kami semua ikut mengendus. Tapi jujur kami semua tak mencium bau apapun. Mungkin karena penasaran ibu keluar, mencari sumber bau berasal. Saat keluar ibu melihat sepasang mata hijau, terlihat dibawah pohon rambutan tampak sedang mengawasi. Awalnya dia tidak curiga dan menduga itu seekor kucing, karena mata kucing akan bercahaya ditempat gelap.

mungkin karena ibu kasihan atau mungkin hanya ingin berbagi rejeki saja, ibu melambai-lambaikan satu tusuk sate sambil memanggil-manggil yang ia kira seekor kucing, “puss..puss..puss, sini puss.”

Tapi tampaknya sesosok mata itu tak pernah bergeming dengan ajakan ibu saya, terus menatap tanpa berkedip sedikitpun. Kesal karena panggilannya tidak dihiraukan, ibu melemparkan satu tusuk sate kearah sepasang mata tersebut. Tapi masih tetap tidak bergerak sedikitpun, ibu merasa takut sebenarnya, namun dia lebih memilih diam, kemudian masuk lagi kedapur melanjutkan aktivitasnya tanpa membicarakannya dengan kami.

Kejadian itu berulang, ketika ibu bangun jam 4 subuh hendak pergi kedapur membersihkan sisa acara bakar-bakar semalam. Maklum dikampung saya biasanya para ibu bangun lebih pagi dibanding anak-anak dan suaminya, tujuannya untuk menyiapkan sarapan dan bekal yang hendak dibawa suaminya pagi-pagi ke ladang.

Tahrim belum berkumandang di masjid, tapi ibu sudah terbangun karena sudah terbiasa. Ketika hendak membuka pintu belakang rumah, sekelebat seperti ada orang yang berlari persis didepannya. Ibu saya merasa kaget dan sedikit ketakutan, melirik ke kiri dan kenanan untuk memastikan bahwa yang dialaminya barusan bukan delusi atau imajinasi karena belum sadar dari tidurnya.

Namun nihil, tak ada seorangpun yang ibu lihat. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa barusan nyata, bahkan dia bisa merasakan hembusan angin yang barusan lari dan getaran dari tanahnya juga terasa nyata.
Ketika berjalan menuju dapur dan hendak membuka pintunya, ibu teringat kembali kejadian tadi malam saat melempar setusuk sate ke arah pohon rambutan. Maka dengan reflek dia kembali mengecek pemandangan pohon rambutan, dan apa yang dilihat ? sepasang mata itu masih ada, berwarna hijau tampak bulat dan tak berkedip sedikitpun.

Setelah masuk kedalam dapur, ibu mengambil korek api. Dia mencoba menyalakan tungku kayu untuk memasak. Tapi perasaan itu tak bisa dibohongi, kaki ibu katanya gemetar. Bulu kuduknya merinding, bayangan sepasang mata hijau itu selalu menempel dikepalanya.

Sekedar info, entah benar atau bohong katanya kalau bulu kuduk kita merinding karena ketakutan, itu karena ada makhluk astral yang sedang berada didekat kita. Karena dalam tubuh kita mengandung listrik, dan makhluk astral atau makhluk tak kasat mata ini memiliki energi maka ketika tubuh kita didekati reflek energi listrik didalam tubuh ini akan bereaksi.

Ibu saya mencoba memberanikan diri dengan tetap beraktivitas dan menghiraukan bayangan-bayangan seram dikepalanya. Namun ketika bau amis itu tercium kembali dihidungnya, ibu menyerah dia lari menghiraukan pekerjaannya yang belum selesai.

Pagi hari ibu cerita kepada bapak tentang apa yang terjadi semalan dan tadi subuh, namun ketika dicek dibawah pohon rambutan tak ada apa-apa.

“kalau sepasang mata hijau, jangan-jangan yang waktu kita dikebun teh itu pak ?”kata saya kepada bapak mengingatkan kejadian waktu kita dicegat anjing hitam.

“huss.. mungkin itu Cuma kucing saja.” jawab bapak tenang, agar suasana tidak semakin panik.

Ketika bapak pergi kesawah, ibu terus bertanya kepada saya tentang apa yang dimaksud kejadian dikebun teh dengan sepasang mata berwarna hijau. tapi saya mengerti maksud bapak, jika saya menceritakan apa yang terjadi peristiwa itu, ibu tak akan berani lagi bangun subuh untuk masak dan bisa kacau balau nantinya. Ibu saya itu orangnya gampang panik.

Untuk sekedar menenangkan hati ibu, maka saya memasang lampu dibawah pohon rambutan yang jaraknya beberapa meter dari dapur kami. Lampu bulat berwarna kuning dengan daya lima watt rasanya cukup untuk mengusir lagi kekhawatiran ibu. Maklum letak antara rumah kami dengan tetangga sedikit renggang, dipisahkan oleh kebun pisang yang gelap gulita kalau malam hari.

Namun rupanya teror belum berhenti sampai disitu. Menurut ibu Menjelang malam hari ia merasa ingin buang air kecil, maka ia bergegas pergi meninggalkan tempat tidurnya. Mata masih dalam keadaan sepet, pikiran ngantuk antara sadar dan tidak sadar ketika ibu beridiri dikamar mandi dan melihat kearah jendela kaca kecil, diluar sana ia melihat seorang wanita berdiri persis menatap kearahnya dengan wajah penuh amarah.

Ketika melihat kejadian itu ibu tersadar seketika. Rasa kantuk telah pergi, mata bersinar seperti bangun dipagi hari. beberapa kali dia mengucapkan istigfar, kemudian mencuci mukanya. Walaupun merasa takut, ibu kembali melihat kearah jendela kaca kecil kamar mandi untuk memastikan bahwa barusan bukan mimpi. Dan wanita itu masih beridiri, mengenakan kebaya putih dengan balutan kain batik dibawahnya, berkerudung putih pula tapi rambutnya tergerai kedepan.

Ibu yang panik segera keluar setengah berlari, dia berteriak namun suaranya tidak kelaur. Tubuhnya menggigil ketakutan setengah mati. Ibu saya segera menggoyah-goyahkan tubuh bapak saya yang sedang tertidur pulas.
“kenapa bu ?” tanya bapak saya ketika terbangun.

Ibu saya tidak berbicara, wajahnya pucat dengan pipi dibanjiri air mata. Dia hanya menunjuk-nunjuk keluar, dengan tangan yang bergetar. Bapak yang mengira ada maling sontak bangun dan berlari keluar membuka pintu.
Namun nihil tak ada siapapun diluar rumah, sepi dan sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun pisang sebelah dan semilir angin malam yang membuat tubuh menggigil.

“kenapa bu ? bu.. nyebut..isitigfar bu.” Bapak mengguncang-guncangkan tubuh ibu karena dia menangis karena ketakutan.

Saya duduk disamping ibu mengusap-ngusap bahunya mencoba menenangkan. Adik perempuan saya yang masih berumur 10 tahun terbangun kemudian membuatkan ibu teh manis. Malam itu benar-benar menggemparkan, saya bermaksud untuk mengundang tetangga agar suasana ramai dan ibu bisa sedikit tenang, tapi bapak melarangnya. Mengingat waktu sudah menunjukan jam setengah dua malam.

Ketika keadaan sedikit kondusif, dan ibu saya tidak ketakutan lagi bapak mulai bertanya apa yang dialaminya.

“waktu ke kamar mandi dari jendela kaca ibu liat ada perempuan, matanya meletot seperti marah sama ibu. dia sedang berdiri diluar sendirian.” ucap ibu yang kemudian menangis kembali mungkin karena bayang-bayang itu teringat lagi.

Akhirnya malam itu ibu dan kedua adik saya tidur diruang tengah, sementara saya dikursi sofa. Bapak mungkin yang tak bisa tidur, dia pergi keluar katanya mau berkeliling rumah untuk mengecek keadaan sekitar. Bapak juga sekalian ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tapi ketika saya hendak terlelap tidur, terdengar suara orang sedang berlari, mungkin itu bapak. Getarannya bahkan masih terasa, saya yang merasa penasaran kemudian membuka gordeng kaca untuk mengecek. Dan saya melihat bapak berlari menuju kebun pisang yang gelap gulita, entah apa yang bapak kejar kearah sana. Ingin rasanya saya keluar, namun belum sempat saya beranjak dari kursi. tiba-tiba seorang perempuan berdiri dihalaman depan menatap kearah saya..


Wanita yang saya lihat dihalaman depan tiba-tiba menghilang ketika bapak kembali dari kebun pisang. Dengan baju basah karena bercucuran keringat bapak saya masuk kedalam rumah dan mengambil segelas air. Saya hendak bertanya apa yang terjadi, tapi saya urungkan niat itu ketika melihat bapak masih ngos-ngosan mengatur nafas.

Keesokan harinya saya bertanya kepada bapak tentang kejadian semalam. Bapak menjelaskan bahwa semalam dia melihat anjing hitam yang dulu pernah mencegat kita ditengah kebun teh. Anjing itu dipergoki bapak berada dibelakang dapur kami, rupanya dia ditugaskan untuk mengawasi keluarga ini.

Mungkin si pelaku santet marah kepada bapak, karena dia sudah membantu teh Ratih pulih. Dan sekarang mencoba balik menyerang bapak. Saya juga menceritakan tentang penampakan sesosok wanita yang terlihat dihalaman depan, mungkin sosok wanita tersebut juga yang menampakan diri kepada ibu waktu dikamar mandi. Tapi bapak menjawab dia tak melihat sosok wanita semalam hanya anjing hitam saja.

Ibu saya kembali pulih setelah diyakinkan bahwa semua baik-baik saja. kemudian bapak berpesan bahwa makhluk atau apapun namanya, tidak akan berani memasuki rumah, dia hanya mencoba meneror kita secara mental untuk kemudian lemah dari dalam. Seperti ibu yang ketakutan kemudian sakit karena mental dan jiwanya roboh sehingga mengakibatkan fisiknya juga ikut tumbang. Memang dari keluarga ini ibulah yang paling rentan jiwanya.

Sepertinya memang si pelaku santet yang misterius itu tak pernah jengah membuat keluarga saya celaka. Semenjak ibu pulih kembali dan beraktifitas seperti biasa, ada satu kejadian yang membuat ibu kembali sakit. waktu itu sebuah peristiwa terjadi setelah isya, lebih tepatnya sekitar jam 8 malam. bapak belum pulang kerumah, mungkin sehabis sholat isya dimesjid dia pergi ke rumah salah satu warga untuk tahlil 40 harian. Dirumah hanya ada saya, kedua adik perempuan saya dan ibu.

Saya waktu itu sedang dikamar membaca koleksi komik mini gareng petruk karangan Tatang S pinjaman dari teman lama saya yang baru pulang mudik juga, dia kuliah di jogja. Sedangkan ibu sedang dirumah tengah menonton tv. Menurut ibu ketika sedang asik menonton, terdengar suara ketukan di pintu, mungkin karena mengira itu tamu, ibu lantas bergegas untuk membukanya. Tapi begitu ibu membuka pintu, tak ada seorangpun berdiri disana, hanya beberapa batu seukuran jempol kaki tergeletak dibawah dilantai. Ketika ibu hendak menutup pintu teredengar seperti suara orang memanggil namanya.

ibu menyuruh masuk, dan temannya itu diam saja. karena mungkin ibu tak enak, malah dia yang menghampiri. Mereka berbincang cukup lama dihalaman depan sambil berdiri, karena sekeras apapun ibu mengajak temannya itu dia tidak mau masuk kedalam rumah.

“ayo atuh bu kerumah saya, banyak makanan ga kemakan, lumayan buat anak-anak sama suami ibu.” Ajak perempuan itu kepada ibu.

Setelah diajak, ibu masuk kedalam rumah untuk mengambil kerudung, dia mengiyakan ajakan temannya itu tanpa berpikir panjang.

“jang ibu kerumah bu irma dulu yah.”

Mendengar ucapan ibu sontak saya kaget. Melemparkan komik yang sedang saya baca kemudian berlari menghampiri ibu. Saya mengguncang-guncangkan tubuh ibu sambil menyuruhnya untuk istigfar agar tersadar.

“kenapa ai kamu ?” ucap ibu melihat tindakan saya.

“ibu ga sadar, bu irma siapa ? ibu irma temen ibu pengajian itu ? dia sudah meninggal bu. Sekarang kan 40 hariannya.” Mendengar ucapan saya ibu langsung tergolek lemas, tubuhnya menggigil seperti kedinginan.

saya berlari kehalaman karena penasaran, dan disana tak ada siapapun. Jadi dengan siapa ibu berbincang tadi.
Ketika bapak datang saya menceritakan semuanya, bapak tampak geram namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut bapak kalau saja waktu itu ibu ikut dengan jelmaan perempuan yang mirip dengan temannya itu, mungkin ibu akan hilang atau disesatkan dijalan. Persis kejadian seperti teh Maryah, tempo dulu. Sejak kejadian itu ibu saya sakit, semua aktivitas harian, saya dan kedua adik saya yang masih kecil yang mengerjakan. Bapak jarang tidur dimalam hari, dia selalu berjaga dan keliling rumah. Siang hari bapak juga tidur hanya beberapa jam, karena ada sawah dan kebun yang harus dia urus juga.

Dua hari semenjak ibu sakit, tepat jam 3 sore kang Asep datang kerumah. Bapak yang baru pulang dari sawah, langsung mengajaknya berbincang diruang tamu. Saya menduga mungkin kang Asep hanya main saja, karena semenjak teh Ratih sembuh dia belum pernah datang kerumah saya lagi.

“istri saya baru-baru ini kena terror lagi pak. Saya sudah cape sebenarnya dengan hal-hal seperti ini. Tapi orang yang mengganggu saya ini tampak tidak puas dan terus ingin mencelakakan keluarga saya.” Ucap mas asep,

saya mendengarkan samar-samar dari ruang tengah sambil menonton tv.
Dari obrolan yang saya dengar, kang Asep ingin meminta bantuan bapak lagi. Saya belum tahu spesifik apa yang sebenarnya terror yang dimaksud disini. Apakah istrinya kang Asep kumat lagi seperti dulu.

“terror gimana sep ?” bapak saya bertanya.

Karena tertarik saya kecilkan volume tv, agar suara obrolan lebih terdengar. Kang Asep mulai bercerita tentang istrinya. Waktu itu Teh Ratih sedang sendiri dirumah, karena memang kang Asep sering berpergian untuk mengantar dagangannya. Ketika teh Ratih selesai sholat isya dia mendengar suara ledakan seperti suara petasan persis diluar kamarnya. Mungkin karena penasaran teh ratih membuka gorden jendela kamar, teh ratih kaget bukan kepalang ketika melihat bayangan seorang pria besar didepan matanya. Dia tak melihat sosok pria itu secara utuh hanya meilhat bayangan hitamnya saja.
T
eh Ratih ketakutan, dia hendak menelpon suaminya. Namun belum teleponnya tersambung, gangguan itu datang lagi. Kini terdengar suara langkah kaki seperti orang berlari. Suara itu amat jelas bahkan teh Ratih bisa merasakan getarannya. Suara lari itu seperti mengelilingi rumahnya, mungkin kalau dihitung suara itu sekitar 6 putaran, teh ratih tak bisa memastikannya karena dia terlanjur ketakutan.

kang Asep tak bisa pulang, karena dia baru setengah jalan mengantar nanas ke daerah purwakarta langganannya. Maka kang asep menyuruh teh Ratih untuk pergi kerumah tetangganya. Karena rumah ibu teh ratih beda kecamatan dan sangat jauh tidak mungkin kang Asep tega menelpon mertuanya itu untuk menemani istrinya.

Teh ratih ingin keluar untuk meminta bantuan, tapi bayangan hitam itu tampak sedang menunggu diluar. Tak ada yang bisa dilakukan teh ratih kecuali menangis ketakutan. Teh Ratih mencoba berteriak meminta tolong, bahkan ia sangat keras berteriak, namun anehnya tak ada satu orangpun yang datang menghampirinya. Sepertinya kekuatan gaib telah meredam suara teh ratih agar tidak terdengar orang-orang, atau bagaimana saya tak mengerti cara kerja si pelaku santet.

Teh ratih pergi kedalam kamarnya dan dia sembunyi dikolong ranjang, untuk mengusir rasa takutnya. Tapi tiba-tiba dari jendela kamarnya, terdengar suara pelan perempuan. Suara itu begitu halus namun lirih seperti orang kesakitan. “Ratih..Ratih…Ratih…” suara itu terdengar berulang-ulang memanggil nama teh Ratih.
Teh Ratih yang semakin ketakutan dia mencoba menutup telinganya dengan telapak tangan, tapi suara wanita lirih yang awalnya pelan, kini dia terdengar marah. Suara tersebut menggelegar memanggil-manggil nama teh ratih. Suara teriakan perempuan itu dibarengi dengan suara gebrakan tangan yang memukul-mukul kaca jendela.

“astagfiruloh..astagfiruloh..astagfirlohh.” hanya istigfar yang keluar dari mulut teh ratih untuk menghilangkan ketakutannya.

“buka pintu ratihhh!!, keluar kau ratihh!!!” teriak suara perempuan dibalik kaca jendela kamar, yang sosoknya tak terlihat oleh teh ratih.

Ketika kang Asep pulang sekitar jam 3 pagi bersama temannya, merasa curiga karena teh ratih tidak merespon saat pintu diketok-ketok bahkan saat ditelpon pun tidak ada jawaban, tapi suara hp teh ratih didalam rumah terdengar oleh kang Asep. sekitar satu jam tidak ada jawaban juga, kang Asep yang merasa curiga dan khawatir akhirnya mendobrak pintu rumah.

Teh Ratih ditemukan dibawah ranjang dalam keadaan tidak sadar. Tubuhnya dingin dengan wajah pucat bercucuran air mata. Bahkan mulutnya tak bisa berhenti mengucapkan istigfar berkali-kali. Kang asep mencoba menyadarkannya mulai dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya, menyiram wajahnya dengan cipratan air, bahkan sampai menampar pipi istrinya itu supaya tersadar.

Mendengar cerita kang Asep, bapak menghela nafas. Entah apa yang harus ia katakan sekarang, tapi bapak tidak meceritakan sedikitpun tentang kejadian ibu yang mengalami terror sama seperti teh Ratih. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya bapak berkata kepada kang Asep bahwa dia tidak bisa lagi membantu kang Asep. kondisi ibu yang sakit dijadikan alasan bapak untuk menolak secara halus kang Asep.

“tolong sekali pa, saya bingung. Saya tidak mengerti hal-hal seperti ini, Cuma bapak harapan saya satu-satunya.” Ucap mas asep dengan nada memohon, matanya tampak berkaca-kaca.

Keputusan bapak sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Saya mengerti sebenarnya alasan bapak menolak kang Asep. yang awalnya bapak kira hanya niat menolong saja, sekarang imbasnya malah kepada keluarga kami. Mungkin bapak sadar dia terlalu jauh ikut campur urusan orang.

Mas asep tidak bisa memaksa keputusan bapak, akhirnya dia pulang dengan tangan hampa. Dari wajahnya kang Asep tampak kecewa, marah mungkin. Tapi saya tak tahu rasa marah dan kesalnya itu ditujukan untuk siapa. Apa kepada bapak yang tidak bisa membantunya lagi atau pada pelaku santet yang telah mengganggu hidupnya itu, saya tak tahu.

Seminggu berlalu, Sedikit demi sedikit ibu saya mulai pulih, beraktifitas seperti biasa. Tapi sepertinya bapak tidak diberi nafas sedikitpun untuk berleha-leha, baru saja dia pulang sholat magrib dari masjid , kang Asep datang lagi kerumah saya. Kali ini dia menangis, bahkan memeluk bapak saya. Dia memohon-mohon agar bapak mau datang kerumah dan membantu istrinya.

Melihat kelakukan kang Asep yang tidak seperti biasanya, menarik perhatian keluarga saya. Disitu ada ibu dan kedua adik saya yang ikut berkumpul di ruang tamu menyaksikan kang Asep yang menangis. Tak tega saya melihat kang asep, bahkan ketika saya melihat ibu matanya ikut berkaca-kaca.

Setelah merasa tenang, dan minum air putih kang Asep mulai bercerita kepada bapak dan juga mungkin kami yang mendengarkan disana. Seminggu yang lalu setelah pulang dari sini, kang asep bergegas mencari orang pintar. Berdasarkan rekomendasi temannya akhirnya ia mendapatkan seorang paranormal, yang berasal dari luar kota subang. Yang tidak akan saya sebutkan kotanya, demi kebaikan bersama agar tidak ada yang tersinggung. Menurut kang Asep si paranormal tersebut datang kerumahnya untuk mengobati teh Ratih dan juga memasang pagar ghoib untuk rumah kang asep agar tidak didatangi lagi makhluk-makhluk aneh. Bahkan menurut kang asep dia membeli semacam keris kecil yang maharnya sangat mahal. demi kebaikan keluarganya waktu itu kang asep tidak memikirkan masalah uang, walaupun ia harus mencatut modal usahanya.

Sekedar info mahar itu menurut sepengetahuan saya, adalah harga untuk membeli barang-barang mistis atau semacam benda pusaka. Jadi dalam istilahnya proses pemindah tanganan benda pusaka disebutnya ijab kabul, karena pamali katanya kalau menggunakan istilah jual beli.

Tapi tak ada reaksi, teh ratih tetap saja diganggu. Bahkan kejadian terakhir menurut kang Asep teh ratih hampir saja tewas disumur belakang rumahnya. Sekarang kang Asep benar-benar kebingungan, uangnnya telah menipis dia tak sanggup lagi mencari paranormal untuk membantunya.

“jadi saya sangat minta tolong sama bapak, saya mohon sekali pak.” Ucap kang asep.

Bapak tampak kebingungan. dia ingin sekali membantu kang asep sepertinya, tapi takut terror kembali berbalik ke keluarga kami. Tidak ada alasan lagi sekarang untuk menolak kang Asep secara halus, bapak masih diam entah apa yang dia pikirkan.

“atau kalau bapak tidak mau membantu, tolong sebutkan saja siapa yang melakukan ini pada keluarga saya pak ? saya akan labrak orang tak tahu diri itu.” Ucap kang Asep tampak geram.

“apa yang terjadi disumur belakang rumahmu sep. yang kamu maksud hampir saja menewaskan istrimu itu ?” entah sedang mengalihkan pembicaraan atau mencari bahan pertimbangan tiba-tiba bapak berkata seperti itu.

 bersambung ke  PART II  ya om .............

Komentar

Postingan Populer